Berita & Artikel Terbaru
Dari Kota Batik Bawa “Oleh-Oleh” Beasiswa, MAN IC Tapsel Perkuat Jalan Murid Menuju Kampus Dunia
26 Aug 2026
Pekalongan — Bukan sekadar membawa pulang pengalaman dan gagasan baru, momentum Refleksi Milad Madrasah Insan Cendekia (MAN IC) se-Indonesia turut menghadirkan “oleh-oleh” penting bagi pengembangan masa depan murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, terbukanya beragam jalur beasiswa pendidikan Kementerian Agama untuk melanjutkan studi hingga perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri.Peluang tersebut mengemuka dalam paparan Dr. Ruchman Basori, M.Ag. bertajuk “Menjadi Generasi Unggul Melalui BIB untuk Menyambut Indonesia Emas 2045”. Dalam paparannya, pembiayaan pendidikan ditempatkan sebagai salah satu instrumen strategis pengembangan sumber daya manusia Kementerian Agama, mencakup berbagai skema beasiswa, KIP Kuliah, pembiayaan studi dan riset, hingga peningkatan kapasitas pendidik.Menariknya, peluang tersebut tidak hanya diarahkan pada studi keagamaan. Murid dan lulusan madrasah memiliki ruang untuk menempuh bidang-bidang strategis seperti teknik, kedokteran, ekonomi, sains, dan berbagai disiplin lainnya, baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Skema yang diperkenalkan antara lain beasiswa unggulan keagamaan, beasiswa magister dan doktor, Program Beasiswa Santri Berprestasi, double degree, beasiswa akselerasi, pendidikan jarak jauh, hingga bantuan penyelesaian studi S2 dan S3.Bagi MAN IC Tapanuli Selatan, informasi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan untuk semakin serius menyiapkan murid sejak dini. Beasiswa tidak cukup hanya “ditunggu” ketika murid duduk di kelas XII, tetapi perlu dipersiapkan melalui pembinaan yang sistematis, mulai dari penguatan kemampuan akademik, bahasa asing, kesiapan menghadapi tes skolastik, wawancara, hingga kemampuan menyampaikan gagasan dan membangun kepercayaan diri.Dalam paparan tersebut, penguasaan bahasa Inggris mendapat perhatian khusus. Kemampuan TOEFL, IELTS, atau persyaratan bahasa sejenis masih menjadi salah satu tantangan utama dalam mengakses beasiswa dan perguruan tinggi luar negeri. Karena itu, MAN IC didorong memperkuat program bahasa sekaligus membiasakan murid dengan proses seleksi akademik dan wawancara sejak masa sekolah.Persiapan juga harus menyentuh strategi memilih perguruan tinggi. Madrasah didorong membangun jejaring dengan pengelola beasiswa dan perguruan tinggi, membimbing murid memahami mekanisme pendaftaran, serta mengenalkan pentingnya memperoleh Letter of Acceptance (LoA) atau unconditional offer apabila dipersyaratkan. Pemilihan kampus pun perlu mempertimbangkan mutu, persyaratan masuk, biaya, peringkat, dan peluang diterima secara terukur.Pesan tersebut sejalan dengan posisi strategis MAN Insan Cendekia sebagai madrasah akademik yang diarahkan melahirkan saintis, akademisi, profesional, dan pemimpin masa depan. Lulusan MAN IC diharapkan tidak hanya unggul dalam sains dan akademik, tetapi juga religius, berkarakter, mandiri, memiliki kemampuan bahasa, berjiwa kepemimpinan, serta mampu berkontribusi nyata di tengah masyarakat.Karena itu, “oleh-oleh beasiswa” dari forum nasional ini memiliki makna lebih besar daripada sekadar informasi program. Ia menjadi dorongan agar pola pembinaan murid MAN IC Tapanuli Selatan semakin diarahkan pada akses perguruan tinggi terbaik sekaligus akses pendanaan pendidikan, sehingga keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi murid berprestasi untuk menembus kampus impian.Ke depan, penguatan bahasa Inggris, literasi teknologi, pembinaan tes skolastik dan wawancara, pendampingan pendaftaran perguruan tinggi, serta perluasan jejaring dengan Kementerian Agama, pengelola beasiswa dan kampus dalam maupun luar negeri menjadi pekerjaan strategis yang perlu terus diperkuat. Dengan langkah tersebut, MAN IC Tapanuli Selatan diharapkan tidak hanya semakin banyak mengantarkan muridnya lulus ke perguruan tinggi terbaik, tetapi juga berangkat membawa beasiswa dan mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045.
Dari Jejak Bung Hatta ke Ruang OSIM: Dua Murid MAN IC Tapsel Pulang Membawa Cara Baru Memimpin
26 Aug 2026
Padang — Kepemimpinan tidak selalu tumbuh dari podium, jabatan, atau ruang rapat. Terkadang, ia lahir ketika seorang pelajar belajar mengenali dirinya, mendengarkan orang lain, membaca persoalan sosial, lalu berjalan menyusuri jejak para tokoh bangsa.Pengalaman itulah yang dibawa pulang dua murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Fauzi Syarif Harahap dan Arie Farhan Lubis, setelah menjadi bagian dari 100 Ketua OSIS/MPK Terbaik se-Indonesia dalam Indonesian Student Leadership Training (ISLT) 2026 yang berlangsung di Sumatera Barat pada 11–18 Agustus 2026.Keikutsertaan keduanya menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang melampaui teori. Selama delapan hari, para peserta dipertemukan dengan gagasan, pengalaman lapangan, sejarah kebangsaan, serta forum pertukaran pemikiran bersama pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.Rangkaian ISLT 2026 diawali pada 11 Agustus dengan kedatangan peserta, welcoming dinner, serta sesi inspiratif bersama sejumlah tokoh. Selanjutnya, peserta mengikuti kontrak belajar, orientasi program, serta berbagai sesi pengembangan kapasitas kepemimpinan.Salah satu materi yang menjadi warna kuat dalam kegiatan tersebut adalah “Bung Hatta dan Seni Menjadi Negarawan.” Dari materi ini, peserta diajak memahami kepemimpinan bukan hanya sebagai kemampuan mengarahkan orang lain, tetapi sebagai keberanian menjaga nilai, integritas, kesederhanaan, serta keberpihakan terhadap kepentingan bersama.Materi lainnya, seperti “Mengenal Diri, Menemukan Misi” dan “Pemimpin sebagai Agen Perubahan: Menjadi Manusia Berkualitas Entrepreneur”, memperkuat kesadaran bahwa kepemimpinan bermula dari kemampuan seseorang mengenali dirinya sendiri sebelum mengambil peran di tengah masyarakat.Pembelajaran kemudian bergerak pada isu yang lebih luas. Peserta mendalami gagasan mengenai masyarakat kooperatif, empati sebagai fondasi kepemimpinan, kemampuan membaca persoalan sosial melalui pendekatan sistem, hingga design thinking bagi pemimpin muda.Melalui sesi “Membangun Gerakan, Bukan Sekadar Program”, para peserta juga diajak keluar dari paradigma kegiatan organisasi yang hanya berorientasi pada agenda seremonial. Kepemimpinan didorong menjadi sebuah gerakan yang memiliki dampak, kesinambungan, dan kebermanfaatan nyata bagi lingkungan sekitarnya.Belajar dari Ruang Pemerintahan hingga Jejak Para NegarawanISLT 2026 tidak hanya berlangsung di dalam ruang pembelajaran. Para peserta mendapatkan pengalaman langsung melalui kunjungan ke DPRD Sumatera Barat dan lingkungan pemerintahan Provinsi Sumatera Barat.Pembelajaran kebangsaan semakin kuat ketika peserta menyusuri sejumlah tempat yang berkaitan dengan sejarah perjuangan dan pemikiran tokoh bangsa.Dalam agenda perjalanan sejarah, peserta mengunjungi kawasan yang memiliki hubungan dengan Haji Agus Salim, Rohana Kudus, Sutan Sjahrir, Syekh Khatib Al-Minangkabawi, hingga jejak kehidupan Mohammad Hatta.Perjalanan tersebut membawa peserta pada satu pesan penting: Indonesia tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang memiliki jabatan, tetapi oleh manusia-manusia yang mempunyai gagasan, keberanian moral, keteguhan prinsip, serta kesediaan mengabdikan diri untuk kepentingan yang lebih besar.Di Bukittinggi, peserta juga memperoleh pengalaman sejarah melalui kunjungan ke sejumlah lokasi penting, termasuk kawasan yang berkaitan dengan Bung Hatta dan Lobang Jepang.Pengalaman ini membuat pembelajaran kepemimpinan dalam ISLT menjadi lebih kontekstual. Sejarah tidak semata dibaca dari buku, tetapi dihadirkan langsung sebagai ruang refleksi bagi calon-calon pemimpin muda Indonesia.Merayakan Kemerdekaan dengan Semangat KepemimpinanMomentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut menjadi bagian penting dalam perjalanan peserta ISLT 2026.Pada 17 Agustus 2026, para peserta mengikuti rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan di Sumatera Barat. Momentum tersebut mempertemukan semangat kepemimpinan generasi muda dengan nilai perjuangan, nasionalisme, dan tanggung jawab menjaga masa depan Indonesia.Bagi Fauzi Syarif Harahap, pengalaman mengikuti ISLT memberikan cara pandang baru tentang arti seorang pemimpin.«“Saya mendapatkan banyak pembelajaran bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang bagaimana seseorang memimpin, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu memahami diri, mendengarkan orang lain, melihat persoalan secara lebih luas, dan menghadirkan kontribusi yang memberikan manfaat.”»Menurut Fauzi, perjumpaan dengan para ketua OSIS dan MPK dari berbagai wilayah Indonesia juga menjadi pengalaman yang berharga. Setiap peserta datang dengan karakter sekolah, lingkungan sosial, serta pengalaman organisasi yang berbeda.Perbedaan tersebut justru menjadi ruang belajar untuk melihat bahwa persoalan organisasi tidak selalu dapat diselesaikan dengan satu pendekatan. Seorang pemimpin dituntut mampu mendengar, beradaptasi, membangun kolaborasi, sekaligus tetap memiliki prinsip.Dari ISLT untuk MAN IC TapselSepulang dari Sumatera Barat, pengalaman ISLT tidak diharapkan berhenti sebagai catatan perjalanan atau sertifikat kegiatan.Fauzi berharap berbagai wawasan yang diperoleh dapat ditransformasikan dalam kehidupan organisasi di MAN IC Tapanuli Selatan, khususnya melalui OSIM. Pengetahuan tersebut juga diharapkan dapat dibagikan kepada pengurus organisasi dan murid lainnya sehingga tumbuh budaya kepemimpinan yang semakin kolaboratif, responsif, dan berorientasi pada kebermanfaatan.Semangat “membangun gerakan, bukan sekadar program” menjadi salah satu gagasan yang relevan untuk dikembangkan dalam organisasi murid. Setiap program tidak hanya dituntut selesai dilaksanakan, tetapi juga perlu memiliki tujuan, kesinambungan, serta dampak yang dapat dirasakan warga madrasah.Keikutsertaan Fauzi Syarif Harahap dan Arie Farhan Lubis dalam ISLT 2026 juga menjadi bagian dari komitmen MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam memberikan ruang seluas-luasnya bagi murid untuk mengembangkan potensi akademik, organisasi, karakter, dan kepemimpinan.Prestasi tersebut tidak terlepas dari dukungan keluarga besar MAN IC Tapanuli Selatan, mulai dari Kepala Madrasah, jajaran Wakil Kepala Madrasah, Pembina OSIM, tenaga pendidik dan kependidikan, pengurus OSIM, hingga seluruh murid.Lebih dari sekadar menjadi bagian dari 100 Ketua OSIS/MPK terbaik se-Indonesia, perjalanan ini membawa pesan yang lebih besar: pemimpin muda tidak cukup hanya pandai berbicara tentang perubahan. Ia harus mampu mengenali persoalan, membangun gagasan, menggerakkan orang lain, dan menghadirkan manfaat.Dari Padang, Bukittinggi, ruang pemerintahan, hingga jejak Bung Hatta dan para tokoh bangsa, Fauzi dan Arie pulang membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar pengalaman perjalanan—sebuah cara baru memandang kepemimpinan.Dan dari MAN IC Tapanuli Selatan, perjalanan itu baru saja dimulai.
Targetkan Humas Level Up Nasional, Humas MAN IC Tapsel Perkuat Branding dari Prestasi Menuju Reputasi
25 Aug 2026
Pekalongan — MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan turut mengambil bagian dalam kegiatan Best Practice Humas Level Up dan Tata Kelola Layanan Pendidikan MAN Insan Cendekia se-Indonesia yang diselenggarakan di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, pada 25–27 Agustus 2026.Kegiatan yang diinisiasi Biro Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Kementerian Agama Republik Indonesia tersebut merupakan bagian dari Program Kerja Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama RI Tahun Anggaran 2026. Pelaksanaan kegiatan dipusatkan di Hotel Amandaru Kota Pekalongan dan MAN Insan Cendekia Pekalongan.MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan menjadi salah satu dari 25 MAN Insan Cendekia se-Indonesia yang diundang mengikuti forum tersebut. Madrasah diwakili oleh Said Hasan Assegaf Rambe, Wakil Kepala Madrasah Bidang Hubungan Masyarakat MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan.Kegiatan Humas Level Up dirancang tidak sekadar sebagai forum koordinasi, tetapi juga menjadi ruang penguatan paradigma baru kehumasan MAN Insan Cendekia. Kehumasan didorong bergerak dari pola publikasi kegiatan menuju pembangunan reputasi institusi yang berkelanjutan.Salah satu gagasan utama yang ditekankan dalam materi penguatan branding adalah perubahan orientasi dari sekadar:“Publikasi Kegiatan ? Publikasi Prestasi ? Branding Reputasi”menjadi pola komunikasi yang lebih strategis:“Achievement ? Story ? Proof ? Reputation.”Pendekatan tersebut menempatkan capaian madrasah bukan hanya sebagai informasi yang dipublikasikan, tetapi sebagai cerita yang memiliki bukti, dampak, konsistensi, serta mampu membangun kepercayaan publik.Dalam konteks tersebut, MAN Insan Cendekia diarahkan semakin kuat memosisikan diri sebagai “Talenta Indonesia Masa Depan”, yakni lembaga pendidikan yang menyiapkan generasi Indonesia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, berintegritas, beriman, menguasai teknologi, memiliki wawasan kebangsaan, serta mampu bersaing secara global.Penguatan branding MAN IC juga diarahkan melalui lima pilar komunikasi, yaitu Excellence, People, Alumni, Impact, dan Islamic Global Citizen.Melalui pilar Excellence, setiap MAN IC didorong menampilkan bukti nyata keunggulan. Pada aspek People, komunikasi publik tidak hanya menampilkan institusi, tetapi juga menghadirkan figur-figur manusia di balik keberhasilan madrasah, mulai dari murid, guru, tenaga kependidikan, hingga berbagai pihak yang berkontribusi.Sementara itu, aspek Alumni diarahkan untuk memperkuat dokumentasi dan publikasi kiprah lulusan di berbagai bidang. Pada pilar Impact, prestasi tidak berhenti pada capaian berupa piala atau penghargaan, tetapi harus dapat menunjukkan manfaat dan kontribusi nyata. Sedangkan Islamic Global Citizen menjadi salah satu diferensiasi penting MAN Insan Cendekia sebagai lembaga pendidikan yang memadukan nilai keislaman dengan wawasan global.Penguatan kehumasan tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah indikator keberhasilan branding, mulai dari Awareness, Consideration, Preference, Advocacy, Visibility, Authority, hingga Impact.Melalui indikator tersebut, efektivitas komunikasi publik tidak hanya dinilai berdasarkan banyaknya publikasi yang dihasilkan. Kehumasan juga perlu mengukur seberapa besar masyarakat mengenal MAN IC, menjadikannya pilihan utama, merekomendasikannya kepada masyarakat lain, seberapa luas pemberitaan positif tentang MAN IC, hingga sejauh mana alumni memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.Pada hari pertama, agenda kegiatan meliputi pembukaan Humas Level Up MAN IC se-Indonesia, materi Penguatan Komunikasi Publik MAN IC oleh Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama RI, Dr. Thobib Al Asyhar, S.Ag., M.Si., serta materi Branding Layanan Publik MAN IC oleh Ketua Tim Pengembangan SDM Humas Biro HKP Kemenag RI, Furqon Kusuma.Rangkaian kegiatan selanjutnya diisi dengan Best Practice dan Sharing Session Humas MAN IC se-Indonesia, rapat koordinasi, hingga penyusunan program kerja Humas MAN IC se-Indonesia.Mewakili MAN IC Tapanuli Selatan, Said Hasan Assegaf Rambe menyambut sangat baik pelaksanaan Humas Level Up tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang penting bagi para pengelola kehumasan MAN Insan Cendekia untuk meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, sekaligus menyamakan perspektif tentang arah komunikasi publik yang lebih strategis.“Kami menyambut sangat baik kegiatan Humas Level Up ini karena menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk meningkatkan kompetensi kehumasan, memperkuat jejaring, serta mempelajari berbagai praktik baik dari MAN Insan Cendekia se-Indonesia. Humas hari ini tidak cukup hanya mampu mempublikasikan kegiatan, tetapi juga harus mampu mengolah prestasi, data, cerita, dan dampak menjadi reputasi serta kepercayaan publik,” ujar Said.Ia menambahkan bahwa penguatan kompetensi humas harus berjalan seiring dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, perubahan karakter audiens, dan dinamika komunikasi digital.“Pengelola humas perlu terus belajar, adaptif terhadap perkembangan teknologi dan media, mampu membaca kebutuhan publik, serta menghadirkan komunikasi yang cepat, akurat, kreatif, dan dapat dipertanggungjawabkan. Yang terpenting, setiap informasi yang disampaikan harus tetap mencerminkan nilai, karakter, dan keunggulan MAN Insan Cendekia,” tambahnya.Said juga menilai forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antarhumas MAN IC secara nasional, sehingga praktik-praktik baik yang telah berkembang di masing-masing madrasah dapat saling dibagikan dan direplikasi.“Kami berharap forum seperti ini dapat terus memperkuat kolaborasi Humas MAN IC se-Indonesia. Dengan jejaring yang kuat, berbagai inovasi, prestasi, dan praktik baik tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dapat menjadi kekuatan komunikasi bersama dalam membangun reputasi MAN Insan Cendekia secara nasional,” jelasnya.Keikutsertaan MAN IC Tapanuli Selatan dalam forum ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola komunikasi publik madrasah agar semakin profesional, terukur, adaptif, kreatif, dan berorientasi pada reputasi.Melalui forum nasional ini, praktik-praktik baik kehumasan dari berbagai MAN Insan Cendekia diharapkan dapat dikolaborasikan dan dikembangkan menjadi sistem komunikasi publik yang tidak hanya aktif menyampaikan informasi, tetapi juga mampu membangun kepercayaan, memperkuat citra kelembagaan, serta menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.Bagi MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, paradigma Humas Level Up menjadi momentum untuk terus mengembangkan komunikasi publik yang berbasis data, prestasi, cerita inspiratif, bukti, dan dampak. Dengan demikian, setiap prestasi madrasah tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi berkembang menjadi reputasi dan kepercayaan publik yang semakin kuat.Humas MAN IC Tapanuli SelatanKampus Prestasi, Mandiri, Islami
Perkuat Keteladanan Nabi, OSIM MAN IC Tapsel laksanakan Maulid berbasis Cerdas Cermat Islami
25 Aug 2026
MAN IC Tapsel (Humas) — MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang dirangkaikan dengan Lomba Cerdas Cermat Islami, Selasa, 25 Agustus 2026, di Aula Madrasah. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut dimotori oleh Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter, literasi keislaman, serta pembiasaan nilai-nilai keteladanan Rasulullah saw. di lingkungan madrasah.Peringatan tahun ini mengusung tema “Mencintai Rasulullah, Meneladani Akhlaknya, Merawat Indonesia.” Tema tersebut menempatkan Maulid Nabi bukan hanya sebagai kegiatan seremonial keagamaan, tetapi juga sebagai momentum pendidikan untuk menghadirkan kembali akhlak Rasulullah saw. dalam kehidupan murid, baik dalam proses belajar, pergaulan, organisasi, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.Kegiatan berada di bawah pembinaan Pembina OSIM, Ali Syahputra Dalimunthe, S.Pd., bersama Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Eko Purwono, S.Pd. Keterlibatan OSIM sebagai motor pelaksana sekaligus menjadi ruang pembelajaran organisasi bagi murid agar mampu merencanakan, mengelola, dan mempertanggungjawabkan sebuah kegiatan yang bernilai edukatif dan religius.Peringatan Maulid Nabi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengingat tanggal kelahiran Rasulullah saw. Bagi dunia pendidikan, Maulid merupakan sarana menghadirkan figur Nabi Muhammad saw. sebagai teladan nyata dalam pembentukan kepribadian. Rasulullah dikenal tidak hanya karena keluasan ilmu dan kecerdasan beliau, tetapi terutama karena kemuliaan akhlaknya.Hal tersebut ditegaskan Allah Swt. dalam Al-Qur’an:????????? ???????? ?????? ???????“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al-Qalam: 4)Ayat tersebut menjadi landasan penting bahwa inti keteladanan Rasulullah terletak pada keluhuran akhlak. Dalam konteks kehidupan murid, keteladanan tersebut dapat diterjemahkan dalam sikap jujur ketika belajar dan mengikuti ujian, disiplin terhadap waktu, menghormati guru dan orang tua, menyayangi sesama, menjaga lisan, bertanggung jawab terhadap amanah, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.Keteladanan Rasulullah juga tercermin melalui empat karakter utama, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Nilai siddiq membentuk pribadi yang jujur dan berintegritas. Amanah menanamkan tanggung jawab dalam setiap tugas. Tabligh mengajarkan keberanian menyampaikan kebenaran secara santun. Sementara fathanah mendorong setiap murid untuk terus mengembangkan kecerdasan, daya pikir kritis, dan kemampuan menyelesaikan persoalan.Karena itu, pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat Islami dalam rangkaian Maulid Nabi memiliki keterkaitan yang kuat dengan spirit keteladanan Rasulullah. Perlombaan bukan semata-mata mencari pemenang, tetapi menjadi medium untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu agama, memperluas wawasan keislaman, membangun keberanian, melatih kecepatan berpikir, dan menanamkan semangat berkompetisi secara sehat.Melalui kegiatan tersebut, murid diharapkan memahami bahwa mencintai Rasulullah tidak cukup hanya diwujudkan melalui ungkapan dan perayaan, tetapi harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Kecintaan kepada Rasulullah memperoleh makna ketika ajaran dan akhlak beliau hadir dalam keseharian: ketika seorang murid memilih berlaku jujur meskipun tidak diawasi, menolong temannya tanpa pamrih, menjaga kebersihan, menghargai perbedaan, menahan emosi, serta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.Tema “Merawat Indonesia” juga menegaskan bahwa nilai-nilai kenabian memiliki relevansi kuat dengan kehidupan kebangsaan. Rasulullah mengajarkan persaudaraan, keadilan, penghormatan terhadap perjanjian, kepedulian terhadap kaum lemah, serta kemampuan membangun kehidupan bersama di tengah keberagaman. Nilai-nilai tersebut sangat penting bagi generasi muda Indonesia yang kelak akan hidup dan mengambil peran di tengah masyarakat yang majemuk.Di lingkungan madrasah, mencintai tanah air dapat diwujudkan melalui kesungguhan belajar, menjaga fasilitas bersama, menaati aturan, membangun prestasi, menghindari perundungan, menjaga persaudaraan, serta berkontribusi positif melalui kegiatan organisasi. Dengan demikian, semangat Maulid Nabi bertemu dengan tujuan pendidikan madrasah: melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual, matang secara sosial, dan kokoh integritasnya.Keterlibatan OSIM dalam penyelenggaraan kegiatan ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan karakter dapat tumbuh melalui pengalaman langsung. Murid belajar tentang kepemimpinan, kerja sama, komunikasi, pelayanan, pengambilan keputusan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari pendidikan kepemimpinan yang sejalan dengan sifat amanah dan keteladanan Rasulullah saw.Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. di MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan di aula selesai. Spirit utamanya justru diharapkan berlanjut dalam budaya keseharian madrasah: budaya memberi salam, saling menghormati, disiplin, menjaga adab, mencintai ilmu, bekerja sama, serta berlomba dalam kebaikan.Melalui momentum ini, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan terus berupaya menanamkan pemahaman bahwa kemajuan pendidikan harus berjalan seiring dengan kemuliaan akhlak. Prestasi menjadi semakin bernilai apabila dibangun di atas kejujuran, ilmu menjadi semakin bermakna apabila melahirkan kerendahan hati, dan kepemimpinan menjadi semakin kuat apabila berlandaskan amanah.Dengan semangat “Mencintai Rasulullah, Meneladani Akhlaknya, Merawat Indonesia,” peringatan Maulid Nabi dan Lomba Cerdas Cermat Islami menjadi ruang pembelajaran bagi seluruh murid untuk menghadirkan Rasulullah saw. bukan hanya dalam ingatan, tetapi juga dalam sikap, pilihan, dan tindakan nyata sehari-hari.Humas MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan
OSIM MAN IC Tapsel Ikuti Pelantikan KNPI Tapanuli Selatan, Perkuat Wawasan Kepemudaan dan Organisasi
22 Aug 2026
MAN IC Tapsel (Humas)— Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan mengikuti kegiatan Pelantikan Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Tapanuli Selatan yang dilaksanakan di Gedung Aula Sarasi Tapanuli Selatan, Sipirok, Sabtu (22/8/2026).Keikutsertaan OSIM MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya madrasah memperluas wawasan murid mengenai kepemudaan, kepemimpinan, dan dinamika organisasi di tengah masyarakat. Melalui keterlibatan secara langsung, murid diharapkan tidak hanya memahami organisasi dalam konteks internal madrasah, tetapi juga memperoleh gambaran tentang peran generasi muda dalam pembangunan daerah dan kehidupan sosial kemasyarakatan.Kegiatan pelantikan DPD KNPI Kabupaten Tapanuli Selatan mengusung semangat “Generasi Emas Activist Preneur Menuju Tapsel Bangkit.” Momentum tersebut menjadi ruang pembelajaran yang relevan bagi pengurus OSIM untuk mengenal lebih dekat nilai-nilai kepemimpinan, tanggung jawab, komunikasi organisasi, kolaborasi, serta semangat pengabdian yang menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter generasi muda.Kepala MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Abdul Hakim Siregar, menyampaikan bahwa pelibatan murid dalam kegiatan kepemudaan di luar lingkungan madrasah merupakan bagian dari pendidikan kontekstual yang dapat memperkaya pengalaman mereka.“Madrasah tidak hanya memberikan ruang belajar melalui kegiatan akademik, tetapi juga mendorong murid untuk memperoleh pengalaman sosial dan organisasi. Dengan mengikuti kegiatan seperti pelantikan KNPI ini, murid dapat melihat secara langsung bagaimana organisasi kepemudaan berperan, membangun jejaring, serta mengembangkan semangat kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.Menurutnya, pengalaman berorganisasi sejak usia sekolah memiliki nilai strategis dalam membentuk murid yang percaya diri, mampu bekerja sama, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta terbiasa mengambil tanggung jawab secara proporsional.Bagi pengurus OSIM MAN IC Tapanuli Selatan, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk memperluas perspektif mengenai keberlanjutan proses kaderisasi kepemimpinan. Pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam pengelolaan organisasi siswa di madrasah, baik dalam penyusunan program, pembagian tugas, penguatan kerja tim, maupun pelaksanaan kegiatan yang memberi manfaat bagi seluruh warga madrasah.slot gacorslot gacorslot maxwinapk slot gacorjudi slotdapodikKeterlibatan OSIM dalam forum kepemudaan juga sejalan dengan semangat MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan kepemimpinan, kemandirian, serta kesiapan untuk mengambil peran positif di tengah masyarakat.Melalui kegiatan ini, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan berharap para pengurus OSIM semakin memahami bahwa organisasi merupakan ruang pendidikan karakter, tempat belajar mengambil keputusan, mengelola perbedaan, membangun kolaborasi, serta menumbuhkan semangat pengabdian.Ke depan, madrasah akan terus memberikan ruang kepada murid untuk mengikuti kegiatan edukatif dan kepemudaan yang relevan sebagai bagian dari penguatan kompetensi, karakter, dan jiwa kepemimpinan sejak dini, sekaligus meneguhkan MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan sebagai Kampus Prestasi, Mandiri, Islami.
MAN IC Tapsel Ikuti Rakor Penanganan Pascabencana Prasarana Madrasah di Sumatera Utara
22 Aug 2026
Medan (Humas MAN IC Tapsel) — MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan mengikuti Rapat Koordinasi Penanganan Pascabencana Prasarana Kesehatan dan Madrasah di Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026, sekaligus identifikasi lokasi penanganan pascabencana untuk Tahun Anggaran 2027–2028.Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 20–22 Agustus 2026 di Hotel Santika Premiere Dyandra Medan, Jalan Kapten Maulana Lubis No. 7, Medan, Sumatera Utara.Dalam kegiatan ini, Kepala MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan diwakili oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Sarana dan Prasarana, Hardiman Musdiko Prasetyo, S.H. Kehadiran MAN IC Tapanuli Selatan merupakan bagian dari keterlibatan aktif madrasah dalam koordinasi penanganan dan penguatan kesiapan prasarana pendidikan, khususnya dalam konteks rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan tercantum secara resmi sebagai salah satu madrasah yang diundang dalam kegiatan tersebut bersama berbagai unsur pemerintah daerah, instansi Kementerian Agama, satuan pendidikan, penyedia jasa konstruksi, serta konsultan manajemen konstruksi. Dalam daftar undangan, Kepala MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan tercatat pada urutan peserta dari unsur Kantor Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara.Rapat koordinasi ini membahas sejumlah agenda strategis, antara lain kebijakan penanganan rencana induk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumatera Utara, penanganan keadaan darurat pascabencana prasarana kesehatan, serta penanganan keadaan darurat pascabencana prasarana madrasah.Selain sesi pemaparan, peserta juga mengikuti desk lokasi dan pemenuhan Readiness Criteria, yang menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan administrasi dan teknis terhadap lokasi yang masuk dalam skema penanganan pascabencana.Dalam undangan, peserta diminta membawa sejumlah kelengkapan dokumen Readiness Criteria, di antaranya surat konfirmasi kesesuaian lokasi infrastruktur, surat pernyataan kesediaan menerima hibah, dokumen kepemilikan lahan, dokumen terkait penghapusan aset apabila dipersyaratkan, serta surat pernyataan kesediaan pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).Wakil Kepala Madrasah Bidang Sarana dan Prasarana MAN IC Tapanuli Selatan, Hardiman Musdiko Prasetyo, S.H., menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi ruang penting untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai mekanisme penanganan prasarana pendidikan dalam konteks pascabencana.“Kegiatan ini sangat penting karena memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh terkait aspek teknis, administratif, dan kesiapan dokumen dalam penanganan prasarana madrasah pascabencana. Bagi MAN IC Tapanuli Selatan, forum ini juga menjadi bagian dari upaya memastikan setiap pengembangan dan penanganan sarana prasarana dilaksanakan secara tertib, terukur, dan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya.Ia menambahkan, pengelolaan sarana dan prasarana madrasah tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga memerlukan kesiapan dokumen, kepastian status lahan, aspek keselamatan, serta perencanaan yang matang agar setiap program dapat dilaksanakan secara efektif dan berkelanjutan.Melalui partisipasi dalam rapat koordinasi tersebut, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan diharapkan semakin siap dalam memperkuat tata kelola sarana prasarana, khususnya dalam aspek mitigasi, kesiapsiagaan, rehabilitasi, dan pengembangan infrastruktur pendidikan.Keikutsertaan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, representatif, dan mendukung proses pendidikan serta pembinaan murid secara optimal, sejalan dengan semangat Kampus Prestasi, Mandiri, Islami.