Berita & Artikel Terbaru
MAN IC Tapsel Jadi Ruang Strategis Kajian Nasional, Dorong Akses Digital untuk Pemulihan Pendidikan Pascabencana
17 Sep 2026
Tapanuli Selatan (Humas) — MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan mengambil peran strategis dalam pembahasan pemulihan pendidikan pascabencana melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Peran Akses Digital terhadap Pemulihan Pendidikan Pascabencana, Rabu, 16 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di MAN IC Tapanuli Selatan ini diinisiasi oleh Badan Akses Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital RI bekerja sama dengan Institut Bisnis Indonesia Kosgoro 1957, sebagai bagian dari kajian berbasis eviden mengenai kontribusi akses digital dalam mempercepat pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana.Bagi MAN IC Tapanuli Selatan, keterlibatan dalam forum tersebut tidak sebatas sebagai lokasi penyelenggaraan. Madrasah hadir sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang memberikan perspektif lapangan mengenai kebutuhan keberlanjutan proses belajar ketika terjadi kondisi darurat. Pengalaman institusi pendidikan dalam mengelola pembelajaran, komunikasi, informasi, serta pemanfaatan teknologi menjadi masukan penting bagi penyusunan rekomendasi yang diharapkan lebih dekat dengan kebutuhan nyata satuan pendidikan.FGD mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten Tapanuli Selatan, mulai dari Dinas Komunikasi dan Informatika, Dinas Pendidikan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, MAS Abu Bakar Siddik, MAS KHA Dahlan, hingga MA Negeri 2 Plus Sipirok. Komposisi peserta lintas sektor tersebut mempertemukan perspektif teknologi informasi, kebencanaan, kebijakan pendidikan, dan pengalaman satuan pendidikan dalam satu ruang diskusi.Dalam kerangka kajian BAKTI Komdigi, akses digital dipandang memiliki fungsi yang semakin penting ketika fasilitas pendidikan belum sepenuhnya pulih pascabencana. Konektivitas internet, platform pembelajaran daring, sistem informasi pendidikan, serta perangkat teknologi komunikasi dapat menjadi sarana untuk menjaga keberlangsungan pembelajaran, mendistribusikan materi, memperkuat koordinasi antara guru, murid dan orang tua, sekaligus mempercepat pertukaran informasi di tengah situasi kedaruratan.MAN IC Tapanuli Selatan mendorong agar transformasi digital pendidikan tidak hanya dipahami sebagai penyediaan jaringan internet dan perangkat, tetapi juga sebagai pembangunan ketahanan sistem pendidikan. Akses digital yang tersedia perlu didukung kemampuan institusi, kesiapan guru dan murid, pengelolaan data, pola komunikasi yang cepat, serta sistem pembelajaran yang tetap dapat berfungsi ketika aktivitas pendidikan secara normal mengalami gangguan akibat bencana.Kontribusi madrasah dalam pembahasan ini menjadi relevan karena kajian yang dilakukan tidak berhenti pada persoalan infrastruktur fisik.Salah satu perhatian penting adalah bagaimana mengukur efektivitas akses digital terhadap percepatan pemulihan capaian belajar serta bagaimana intervensi digital dapat dirancang secara inklusif dan tepat sasaran. Perspektif dari satuan pendidikan diharapkan membantu menjembatani antara rancangan kebijakan di tingkat pusat dengan kebutuhan operasional yang benar-benar dihadapi sekolah dan madrasah di daerah.Kajian tersebut selanjutnya diarahkan menghasilkan sejumlah keluaran strategis, antara lain studi literatur dan penyusunan Indeks Pemulihan Pendidikan Pascabencana (IPPB), indikator final pemulihan pendidikan, data kuantitatif dan kualitatif, analisis peran digital dalam percepatan pemulihan, modul pemulihan kegiatan belajar mengajar pascabencana, hingga executive summary hasil kegiatan. Melalui keterlibatan aktif dalam forum ini, MAN IC Tapanuli Selatan turut menjadi bagian dari upaya membangun basis pengetahuan yang dapat digunakan untuk merancang respons pendidikan pascabencana yang lebih terukur dan berkelanjutan.Keterlibatan MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan sekaligus menegaskan bahwa madrasah dapat mengambil posisi lebih luas dari sekadar penyelenggara pembelajaran. Madrasah dapat menjadi ruang kolaborasi, sumber pengalaman lapangan, sekaligus mitra strategis dalam perumusan kebijakan publik pendidikan. Dari Sipirok, kontribusi itu diarahkan pada satu tujuan yang lebih besar: memastikan ketika bencana mengganggu ruang kelas, akses terhadap pendidikan tidak ikut terputus, dan teknologi benar-benar hadir sebagai jembatan agar proses belajar dapat kembali pulih lebih cepat.
Dari 18 Delegasi, Tujuh Jawara MAN IC Tapsel Melaju ke OMI Tingkat Provinsi
13 Sep 2026
Tapanuli Selatan (Humas) — Delapan belas murid berangkat membawa ikhtiar, tujuh di antaranya berhasil membawa tiket menuju panggung provinsi. MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan menorehkan prestasi membanggakan dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tingkat Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2026 dengan meloloskan tujuh murid terbaik ke tingkat Provinsi Sumatera Utara.Keberhasilan tersebut bukan sekadar cerita tentang angka dan peringkat. Di baliknya terdapat keberanian untuk bertanding, ketekunan menghadapi soal-soal menantang, serta kesediaan untuk terus belajar dari setiap proses. Seluruh 18 delegasi telah menunjukkan bahwa kompetisi bukan hanya ruang untuk mencari siapa yang terbaik, melainkan juga tempat menempa ketangguhan intelektual dan kedewasaan sikap.Tujuh murid yang berhasil menjadi jawara adalah Maidia De Rveena Pohan, Juara I Fisika; Najwa Fairuz Salsabila, Juara III Fisika; Hafni Fadilah Harahap, Juara I Kimia; Suci Rahayu Siagian, Juara II Kimia; Izyan Asyana A. Pohan, Juara III Biologi; Revanza Alif Margolang, Juara II Ekonomi; serta Muhammad Rafli Harahap, Juara III Geografi.Capaian ini memperlihatkan kuatnya tradisi akademik yang terus dibangun di MAN IC Tapanuli Selatan. Pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh melalui pendalaman materi, diskusi, latihan terukur, evaluasi, dan pendampingan berkelanjutan. Setiap soal yang diselesaikan menjadi latihan berpikir, sedangkan setiap kesalahan diubah menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.Kepala MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I., M.S.I., menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi, guru pembimbing, dan pihak yang telah mendukung proses persiapan. Menurutnya, ketujuh murid yang melaju ke tingkat provinsi membawa tanggung jawab untuk terus belajar dengan rendah hati, sementara seluruh delegasi tetap menjadi bagian penting dari perjalanan prestasi madrasah.Prestasi tersebut juga lahir dari pendampingan para guru pembimbing, yakni Bagaswara Deas Arista pada bidang Fisika, Siti Kholilah Hasibuan pada bidang Kimia, Nur Atikah pada bidang Biologi, Lenni Erika Siregar pada bidang Ekonomi, serta Wilda Mahrani Daulay pada bidang Geografi. Mereka tidak hanya mengajarkan rumus dan konsep, tetapi turut menanamkan disiplin, daya juang, ketelitian, dan keberanian dalam menghadapi kompetisi.Bagi sebelas delegasi lainnya, perjalanan ini tidak berakhir pada pengumuman hasil. Keikutsertaan mereka merupakan pengalaman berharga sekaligus investasi prestasi pada masa mendatang. Sebab, dalam sebuah kompetisi, kemenangan dapat dicatat dalam sertifikat, tetapi keberanian mencoba, kemampuan bangkit, dan kemauan memperbaiki diri akan menetap jauh lebih lama di dalam karakter.Kini, tujuh jawara tersebut bersiap membawa nama MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan ke OMI Tingkat Provinsi Sumatera Utara yang akan dilaksanakan pada 5–6 Oktober 2026. Dengan semangat Prestasi, Mandiri, dan Islami, mereka diharapkan tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga tampil sebagai generasi madrasah yang mampu mempertemukan kecerdasan, integritas, dan nilai-nilai keislaman dalam satu langkah perjuangan menuju prestasi yang lebih tinggi.
Delapan Murid MAN IC Tapsel Melaju ke Tahap Wawancara Madrasah Goes Abroad Kemenag RI 2026
12 Sep 2026
Tapanuli Selatan (Humas) — Jalan menuju kampus-kampus terbaik dunia mulai terbuka bagi murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan. Sebanyak delapan murid dinyatakan lulus seleksi administrasi Program Madrasah Goes Abroad (MGA) Tahun 2026 dan berhak melanjutkan perjuangan ke tahap wawancara. Capaian ini menjadi bukti bahwa mimpi menempuh pendidikan tinggi di luar negeri kini semakin nyata dan dipersiapkan melalui proses yang terarah.Delapan murid tersebut adalah Aleesya Nazla Harahap, Ariran Wijdan Machani, Bunga Lestari Hasibuan, Fathir Rahman Raditya, Lunaya, Naura Afifah Albaini, Shaira Aini Balqis Harahap, dan Yusuf Al-Bukhori Siregar. Mereka berhasil melewati seleksi administrasi yang mensyaratkan sejumlah dokumen penting, antara lain identitas sebagai warga negara Indonesia, rekomendasi Kepala Madrasah, motivation letter berbahasa Inggris, sertifikat kemampuan bahasa asing, serta dokumen prestasi akademik.Program Madrasah Goes Abroad bukan sekadar kegiatan mengenalkan pendidikan di luar negeri. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6846 Tahun 2026, program ini dirancang untuk mempersiapkan murid madrasah agar memiliki pengetahuan, keterampilan, keberanian, dan kesiapan mental dalam menembus perguruan tinggi kelas dunia, baik melalui jalur beasiswa maupun pembiayaan mandiri.Melalui program ini, peserta akan dibimbing untuk memetakan kemampuan bahasa asing, menentukan bidang studi sesuai potensi dan aspirasi, memilih kampus tujuan, serta menyusun berbagai dokumen strategis. Dokumen tersebut meliputi esai, personal statement atau statement of purpose, study plan, lini masa persiapan studi, hingga curriculum vitae atau resume yang sesuai dengan standar pendaftaran perguruan tinggi internasional.Peserta yang nantinya ditetapkan dalam kuota nasional sebanyak 100 murid akan mengikuti pendampinganu intensif dengan total alokasi 360 jam pelajaran. Materinya mencakup strategi memilih dan mendaftar ke kampus tujuan, eksplorasi peluang beasiswa di berbagai negara, penulisan esai, keterampilan menghadapiui wawancara, wawasan budaya akademik di luar negeri, serta penguatan moderasi beragama. Program juga diarahkan untuk membangun budaya riset dan publikasi ilmiah di lingkungan madrasah.Kepala MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I., M.S.I., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan delapan murid tersebut. “Kelulusan pada tahap administrasi ini merupakan pintu awal dari perjalanan yang lebih besar. Kami ingin mereka hadir dalam wawancara bukan hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga membawa karakter, kepercayaan diri, visi masa depan, dan identitas sebagai generasi madrasah yang siap berkontribusi bagi Indonesia,” ungkapnya.Ia menegaskan bahwa keikutsertaan murid MAN IC Tapsel dalam MGA merupakan bagian dari ikhtiar madrasahu membangun ekosistem studi lanjut luar negeri secara berkelanjutan. “Target kita bukan hanya lolos dalam satu program. Yang sedang kita bangun adalah budaya: berani bermimpi secara global, menyiapkan diri secara serius, serta memiliki komitmen untuku kembali memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama,” tambahnya.Sesuai jadwal terbaru Direktorat KSKK Madrasah, tahapu wawancara berlangsung pada 11–13 September 2026, sedangkan hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada 14 September 2026. Dengan semangat Prestasi, Mandiri, dan Islami, kedelapan murid kini membawa harapan besar keluarga dan madrasah. Mereka tidak hanya sedang mengetuk pintu kampus dunia, tetapi juga sedang menegaskan bahwa dari Tapanuli Selatan, generasi madrasah mampu berdiri percaya diri di Delapan Murid MAN IC Tapsel Melaju ke Tahap Wawancara Madrasah Goes Abroad 2026 Kemenag RIpanggung global.
Uji Nyali Intelektual , ratusan Murid Madrasah ikuti OMI 2026 di MAN IC Tapsel
07 Sep 2026
Tapanuli Selatan (Humas) — Senin pagi, 7 September 2026, layar-layar komputer di MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan tidak sekadar menyala. Di hadapannya, para murid membawa harapan, keberanian, dan daya pikir terbaik untuk bertarung dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tingkat Kabupaten Tapanuli Selatan.Selama tiga hari, 7–9 September 2026, MAN IC Tapanuli Selatan menjadi salah satu titik lokasi pelaksanaan OMI di Kabupaten Tapanuli Selatan. Kompetisi berlangsung berbasis Computer-Based Test (CBT), menjadi bagian dari pelaksanaan OMI secara serentak pada ribuan titik lokasi di seluruh Indonesia.Hari pertama dikhususkan bagi jenjang MA/SMA. Para peserta berhadapan dengan Matematika Terintegrasi, Geografi Terintegrasi, Fisika dan Ekonomi Terintegrasi, serta Biologi dan Kimia Terintegrasi. Pada hari kedua, giliran peserta jenjang MTs/SMP berkompetisi dalam Matematika Terpadu, IPA Terpadu, dan IPS Terpadu. Rangkaian kemudian ditutup pada hari ketiga dengan kompetisi IPAS Terintegrasi dan Matematika Terintegrasi bagi jenjang MI/SD.Bukan hanya akurasi jawaban yang sedang diuji. OMI menghadapkan peserta pada tantangan yang lebih besar: kemampuan membaca persoalan secara kritis, menghubungkan sains dengan realitas kehidupan, serta menggunakan pengetahuan untuk memahami bumi dan kehidupan manusia. Semangat tersebut sejalan dengan tema OMI 2026, “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.”Pelaksanaan hari pertama mendapat peninjauan langsung dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Selatan. Mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Selatan, Pengawas Madrasah jenjang Madrasah Aliyah, Irmayanti, memantau ruang ujian, kesiapan perangkat komputer, jaringan, pengawasan, serta ketertiban pelaksanaan setiap sesi.Irmayanti menyampaikan bahwa pelaksanaan OMI di titik lokasi MAN IC Tapanuli Selatan berlangsung dengan baik dan tertib. Ia juga mengapresiasi kesiapan panitia lokal dalam memastikan setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan.“Pelaksanaan hari pertama berjalan dengan baik. Ruangan, perangkat, pengawasan, serta pelayanan kepada para peserta telah dipersiapkan secara tertib. Kami berharap kondisi ini dapat dipertahankan hingga seluruh rangkaian OMI selesai,” ujar Irmayanti.Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan MAN IC Tapanuli Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Lokal OMI 2026, Eko Purwono, S.Pd., mengatakan bahwa kelancaran hari pertama merupakan hasil koordinasi seluruh unsur kepanitiaan. Persiapan teknis telah dilakukan sejak sebelum pelaksanaan, mulai dari pengecekan perangkat, jaringan internet, ruang ujian, hingga pengaturan peserta dalam setiap sesi.“Alhamdulillah, seluruh sesi pada hari pertama dapat berjalan lancar dan kondusif. Panitia berupaya memastikan setiap peserta memperoleh pelayanan dan kesempatan berkompetisi secara adil, nyaman, serta sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,” ungkap Eko Purwono.Lanjut Eko Purwono, Khusus di titik lokasi MAN IC Tapanuli Selatan, OMI 2026 diikuti oleh ratusan murid madrasah dari berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Tapanuli Selatan. Para peserta berasal dari tiga jenjang, mulai dari Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Ibtidaiyah (MI), yang hadir membawa semangat, kemampuan terbaik, dan harapan untuk melangkah menuju kompetisi pada tingkat berikutnya.OMI 2026 menegaskan bahwa madrasah tidak berdiri di pinggir gelanggang ilmu pengetahuan. Madrasah justru sedang bergerak ke pusatnya—membawa identitas keislaman, ketajaman nalar, kepedulian ekologis, dan keberanian berinovasi dalam satu tarikan napas.Di MAN IC Tapanuli Selatan, kompetisi ini memang berlangsung di depan layar komputer. Namun, yang sesungguhnya sedang ditulis bukan sekadar deretan jawaban. Para peserta tengah menulis kemungkinan masa depan: bahwa dari ruang-ruang belajar madrasah, dapat lahir ilmuwan, peneliti, pemikir, dan inovator yang kelak memberi jawaban bagi persoalan bangsa dan dunia.Kontributor: Tim Humas MAN IC Tapanuli SelatanEditor: Said Hasan Assegaf Rambe
Laksanakan Uji publik riset, Murid MAN IC Tapsel Uji Gagasan “Biochar” Bersama Warga Situmba Julu
03 Sep 2026
Sipirok — Riset biasanya identik dengan laboratorium, laporan, angka, dan ruang presentasi. Namun murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan memilih jalan berbeda. Hasil riset mereka dibawa keluar dari lingkungan madrasah, dipertemukan langsung dengan masyarakat, lalu diuji gagasan dan relevansinya melalui kegiatan Uji Publik Tapsel Biochar Movement bersama warga Desa Situmba Julu. (03/09/2026)Mengangkat tema “Gerakan Desa Karbon Positif: Mengembalikan Karbon ke Tanah, Stop Bakar! Mulai Subur!”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan yang dikembangkan murid dengan pengalaman nyata masyarakat yang sehari-hari bersentuhan dengan tanah, pertanian, dan pengelolaan limbah organik.Gagasan utama yang diperkenalkan adalah pemanfaatan limbah pertanian melalui biochar, yakni mengolah bahan organik menjadi material yang dapat dikembalikan ke tanah untuk mendukung kesuburan dan pengelolaan karbon. Melalui gerakan tersebut, murid mengajak masyarakat melihat sisa pertanian bukan semata-mata sebagai limbah yang harus dibuang atau dibakar, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat diolah dan memberikan manfaat.Dalam sesi uji publik, murid menjelaskan gagasan riset dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dialog berkembang dari persoalan sederhana seperti kebiasaan membakar limbah pertanian, manfaat biochar bagi tanah dan tanaman, hingga peluang perubahan kebiasaan masyarakat menuju pengelolaan limbah yang lebih produktif dan ramah lingkungan.Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan dan penguatan riset murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam mengikuti Sobat Competition. Melalui uji publik ini, tim tidak hanya mematangkan karya dari sisi konsep dan substansi ilmiah, tetapi juga menguji sejauh mana gagasan yang mereka tawarkan dapat dipahami, diterima, dan memiliki relevansi bagi masyarakat. Tim murid yang terlibat terdiri atas Sahira Latifah, Nazwa Amelia Pospos, dan Atika Aufa Pracha, M. Maulana Siregar dab Rofiqoh Adzkia Dalimunthe dengan pendampingan Mis Ariska Aj Rambe sebagai guru pendamping. Sahira Latifah dan Nazwa Amelia Pospos mengambil peran dalam penyampaian substansi Tapsel Biochar Movement, sementara Atika Aufa Pracha dan Rofiqoh Adzkia turut mengawal jalannya komunikasi kegiatan bersama masyarakat dan M. Maulana Siregar sebagai kordinator rangkaian kegiatan.Kegiatan ini dihadiri unsur Pemerintah Desa Situmba Julu, di antaranya Sekretaris Desa Situmba Julu, Irsan Sitompul, Kepala Dusun, Ibu serta masyarakat setempat. Dari MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, kegiatan tersebut dihadiri WKM Humas Said Hasan Assegaf Rambe mewakili Kepala Madrasah serta guru pendamping Mis Ariska Aj Rambe.Sekretaris Desa Situmba Julu, Irsan Sitompul, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang dilakukan para murid. Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan nilai tambah karena pengetahuan yang dibawa berkaitan langsung dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.“Kami menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini. Bagi masyarakat, pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat karena berkaitan langsung dengan tanah, pertanian, dan kebiasaan sehari-hari. Kami juga bangga para murid mau turun langsung bertemu masyarakat, menjelaskan hasil pemikirannya, sekaligus mendengar pengalaman warga,” ujarnya.Mewakili pihak madrasah, Said Hasan Assegaf Rambe menyampaikan terima kasih atas keterbukaan Pemerintah Desa dan warga Situmba Julu yang bersedia menjadi bagian dari proses uji publik tersebut.“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa dan seluruh warga Situmba Julu yang telah bersedia menerima murid-murid kami, berdialog, memberikan respons, bahkan menjadi bagian dari proses uji publik penelitian ini. Bagi madrasah, ini sangat berharga. Murid belajar bahwa ilmu yang baik bukan hanya dipahami, tetapi harus mampu hadir, didengar, diuji, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.Sementara itu, guru pendamping Mis Ariska Aj Rambe menekankan bahwa riset murid perlu dibawa keluar dari ruang kelas agar memiliki makna yang lebih nyata.“Kami ingin murid memahami bahwa riset bukan hanya tentang memenangkan lomba. Ketika sebuah gagasan bisa dibawa keluar dari ruang kelas, didiskusikan dengan warga, lalu menawarkan solusi bagi persoalan di sekitar mereka, di situlah riset mulai memiliki kehidupan,” ungkap Mis Ariska Aj Rambe.Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Murid tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga belajar berkomunikasi, mendengar kritik, menjelaskan gagasan secara sederhana, serta mempertanggungjawabkan ide yang mereka tawarkan.Menariknya, Tapsel Biochar Movement tidak berhenti pada persoalan bagaimana membuat biochar. Gerakan ini membawa pesan perubahan perilaku: dari membakar menjadi memanfaatkan, dari membuang menjadi mengolah, dan dari melihat limbah sebagai masalah menjadi melihatnya sebagai sumber daya.Melalui kegiatan ini, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan terus mendorong budaya riset yang tidak berjarak dengan kehidupan masyarakat. Desa tidak hanya ditempatkan sebagai lokasi penelitian, tetapi sebagai ruang belajar, ruang validasi, sekaligus mitra pengetahuan bagi murid.Karena pada akhirnya, ukuran penting sebuah riset bukan hanya seberapa baik ia dipresentasikan di depan dewan juri, tetapi juga seberapa jauh ia mampu berbicara kepada masyarakat yang menjadi tempat ilmu itu kelak bekerja.Dari Situmba Julu, sebuah pesan sederhana itu digaungkan: Stop Bakar, Mulai Subur.
MAN IC Tapsel Raih IKPA Sempurna 100, Perkuat Tata Kelola Anggaran yang Akuntabel
02 Sep 2026
Padangsidimpuan — MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan kembali menorehkan capaian membanggakan dalam tata kelola keuangan negara. Madrasah tersebut meraih penghargaan atas capaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) sempurna dengan nilai 100 untuk Semester I Tahun 2026. Penghargaan diberikan dalam rangkaian kegiatan yang diselenggarakan KPPN Padang Sidempuan pada Rabu, 2 September 2026Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kualitas pelaksanaan anggaran MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan sebagai satuan kerja di lingkungan Kementerian Agama. Dalam agenda KPPN Padang Sidempuan, pemberian apresiasi kepada satuan kerja terpilih menjadi salah satu rangkaian kegiatan bersama Evaluasi Pelaksanaan Anggaran, Forum Konsultasi Publik, serta penguatan tata kelola dan integritas pelayanan publik. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan sekaligus Kepala Madrasah, Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I., M.S.I., menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, nilai IKPA sempurna tidak hanya dimaknai sebagai prestasi administratif, tetapi juga sebagai cerminan komitmen madrasah dalam mengelola setiap rupiah anggaran negara secara tertib, efektif, transparan, dan bertanggung jawab.“Alhamdulillah, capaian IKPA 100 ini merupakan hasil kerja bersama. Penghargaan ini bukan sekadar tentang angka, tetapi tentang bagaimana amanah anggaran negara dilaksanakan secara disiplin, tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kami menyampaikan apresiasi kepada Bendahara dan seluruh Tim Keuangan MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan yang selama ini bekerja dengan penuh ketelitian dan komitmen,” ujar Abdul Hakim.Pada kegiatan tersebut, Kepala Madrasah diwakili oleh Bendahara MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Bagaswara Deas Arista, bersama Tim Keuangan MAN IC Tapanuli Selatan. Kehadiran mereka sekaligus menjadi representasi tim yang selama ini terlibat langsung dalam menjaga kualitas perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, hingga pertanggungjawaban anggaran madrasah.Capaian IKPA 100 menunjukkan bahwa pelaksanaan anggaran MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan mampu memenuhi indikator kinerja yang ditetapkan dalam pengelolaan APBN. Penghargaan sebelumnya juga tercatat diberikan kepada MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dengan kode satuan kerja 070932 atas capaian Nilai IKPA Sempurna (100) Periode Semester I Tahun 2026.Abdul Hakim menambahkan, prestasi tersebut diharapkan menjadi energi bagi seluruh unsur madrasah untuk terus memperkuat budaya kerja yang profesional dan berintegritas. Tata kelola keuangan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu layanan pendidikan karena anggaran pada hakikatnya merupakan instrumen untuk menghadirkan pelayanan terbaik kepada murid dan masyarakat.Kegiatan di KPPN Padang Sidempuan juga memuat agenda Evaluasi Pelaksanaan Anggaran, sosialisasi sertifikasi pejabat perbendaharaan, Forum Konsultasi Publik, serta penguatan pencegahan korupsi dan gratifikasi. Forum tersebut menekankan pentingnya pelayanan yang transparan, akuntabel, berintegritas, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Ke depan, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan berkomitmen mempertahankan kualitas pengelolaan anggaran melalui perencanaan yang semakin matang, kepatuhan terhadap regulasi, ketepatan pelaksanaan program, serta penguatan koordinasi seluruh pengelola keuangan. Capaian IKPA sempurna ini diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan mewujudkan tata kelola madrasah yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.