Berita & Artikel Terbaru
PTSP MAN IC TAPSEL

Berita & Artikel Terbaru

Delapan Murid MAN IC Tapsel Melaju ke Tahap Wawancara Madrasah Goes Abroad Kemenag RI 2026

Delapan Murid MAN IC Tapsel Melaju ke Tahap Wawancara Madrasah Goes Abroad Kemenag RI 2026

12 Sep 2026

Tapanuli Selatan (Humas) — Jalan menuju kampus-kampus terbaik dunia mulai terbuka bagi murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan. Sebanyak delapan murid dinyatakan lulus seleksi administrasi Program Madrasah Goes Abroad (MGA) Tahun 2026 dan berhak melanjutkan perjuangan ke tahap wawancara. Capaian ini menjadi bukti bahwa mimpi menempuh pendidikan tinggi di luar negeri kini semakin nyata dan dipersiapkan melalui proses yang terarah.Delapan murid tersebut adalah Aleesya Nazla Harahap, Ariran Wijdan Machani, Bunga Lestari Hasibuan, Fathir Rahman Raditya, Lunaya, Naura Afifah Albaini, Shaira Aini Balqis Harahap, dan Yusuf Al-Bukhori Siregar. Mereka berhasil melewati seleksi administrasi yang mensyaratkan sejumlah dokumen penting, antara lain identitas sebagai warga negara Indonesia, rekomendasi Kepala Madrasah, motivation letter berbahasa Inggris, sertifikat kemampuan bahasa asing, serta dokumen prestasi akademik.Program Madrasah Goes Abroad bukan sekadar kegiatan mengenalkan pendidikan di luar negeri. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6846 Tahun 2026, program ini dirancang untuk mempersiapkan murid madrasah agar memiliki pengetahuan, keterampilan, keberanian, dan kesiapan mental dalam menembus perguruan tinggi kelas dunia, baik melalui jalur beasiswa maupun pembiayaan mandiri.Melalui program ini, peserta akan dibimbing untuk memetakan kemampuan bahasa asing, menentukan bidang studi sesuai potensi dan aspirasi, memilih kampus tujuan, serta menyusun berbagai dokumen strategis. Dokumen tersebut meliputi esai, personal statement atau statement of purpose, study plan, lini masa persiapan studi, hingga curriculum vitae atau resume yang sesuai dengan standar pendaftaran perguruan tinggi internasional.Peserta yang nantinya ditetapkan dalam kuota nasional sebanyak 100 murid akan mengikuti pendampinganu intensif dengan total alokasi 360 jam pelajaran. Materinya mencakup strategi memilih dan mendaftar ke kampus tujuan, eksplorasi peluang beasiswa di berbagai negara, penulisan esai, keterampilan menghadapiui wawancara, wawasan budaya akademik di luar negeri, serta penguatan moderasi beragama. Program juga diarahkan untuk membangun budaya riset dan publikasi ilmiah di lingkungan madrasah.Kepala MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I., M.S.I., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan delapan murid tersebut. “Kelulusan pada tahap administrasi ini merupakan pintu awal dari perjalanan yang lebih besar. Kami ingin mereka hadir dalam wawancara bukan hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga membawa karakter, kepercayaan diri, visi masa depan, dan identitas sebagai generasi madrasah yang siap berkontribusi bagi Indonesia,” ungkapnya.Ia menegaskan bahwa keikutsertaan murid MAN IC Tapsel dalam MGA merupakan bagian dari ikhtiar madrasahu membangun ekosistem studi lanjut luar negeri secara berkelanjutan. “Target kita bukan hanya lolos dalam satu program. Yang sedang kita bangun adalah budaya: berani bermimpi secara global, menyiapkan diri secara serius, serta memiliki komitmen untuku kembali memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama,” tambahnya.Sesuai jadwal terbaru Direktorat KSKK Madrasah, tahapu wawancara berlangsung pada 11–13 September 2026, sedangkan hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada 14 September 2026. Dengan semangat Prestasi, Mandiri, dan Islami, kedelapan murid kini membawa harapan besar keluarga dan madrasah. Mereka tidak hanya sedang mengetuk pintu kampus dunia, tetapi juga sedang menegaskan bahwa dari Tapanuli Selatan, generasi madrasah mampu berdiri percaya diri di Delapan Murid MAN IC Tapsel Melaju ke Tahap Wawancara Madrasah Goes Abroad 2026 Kemenag RIpanggung global.

Uji Nyali Intelektual , ratusan Murid Madrasah ikuti OMI 2026 di MAN IC Tapsel

Uji Nyali Intelektual , ratusan Murid Madrasah ikuti OMI 2026 di MAN IC Tapsel

07 Sep 2026

Tapanuli Selatan (Humas) — Senin pagi, 7 September 2026, layar-layar komputer di MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan tidak sekadar menyala. Di hadapannya, para murid membawa harapan, keberanian, dan daya pikir terbaik untuk bertarung dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tingkat Kabupaten Tapanuli Selatan.Selama tiga hari, 7–9 September 2026, MAN IC Tapanuli Selatan menjadi salah satu titik lokasi pelaksanaan OMI di Kabupaten Tapanuli Selatan. Kompetisi berlangsung berbasis Computer-Based Test (CBT), menjadi bagian dari pelaksanaan OMI secara serentak pada ribuan titik lokasi di seluruh Indonesia.Hari pertama dikhususkan bagi jenjang MA/SMA. Para peserta berhadapan dengan Matematika Terintegrasi, Geografi Terintegrasi, Fisika dan Ekonomi Terintegrasi, serta Biologi dan Kimia Terintegrasi. Pada hari kedua, giliran peserta jenjang MTs/SMP berkompetisi dalam Matematika Terpadu, IPA Terpadu, dan IPS Terpadu. Rangkaian kemudian ditutup pada hari ketiga dengan kompetisi IPAS Terintegrasi dan Matematika Terintegrasi bagi jenjang MI/SD.Bukan hanya akurasi jawaban yang sedang diuji. OMI menghadapkan peserta pada tantangan yang lebih besar: kemampuan membaca persoalan secara kritis, menghubungkan sains dengan realitas kehidupan, serta menggunakan pengetahuan untuk memahami bumi dan kehidupan manusia. Semangat tersebut sejalan dengan tema OMI 2026, “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.”Pelaksanaan hari pertama mendapat peninjauan langsung dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Selatan. Mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Selatan, Pengawas Madrasah jenjang Madrasah Aliyah, Irmayanti, memantau ruang ujian, kesiapan perangkat komputer, jaringan, pengawasan, serta ketertiban pelaksanaan setiap sesi.Irmayanti menyampaikan bahwa pelaksanaan OMI di titik lokasi MAN IC Tapanuli Selatan berlangsung dengan baik dan tertib. Ia juga mengapresiasi kesiapan panitia lokal dalam memastikan setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan.“Pelaksanaan hari pertama berjalan dengan baik. Ruangan, perangkat, pengawasan, serta pelayanan kepada para peserta telah dipersiapkan secara tertib. Kami berharap kondisi ini dapat dipertahankan hingga seluruh rangkaian OMI selesai,” ujar Irmayanti.Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan MAN IC Tapanuli Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Lokal OMI 2026, Eko Purwono, S.Pd., mengatakan bahwa kelancaran hari pertama merupakan hasil koordinasi seluruh unsur kepanitiaan. Persiapan teknis telah dilakukan sejak sebelum pelaksanaan, mulai dari pengecekan perangkat, jaringan internet, ruang ujian, hingga pengaturan peserta dalam setiap sesi.“Alhamdulillah, seluruh sesi pada hari pertama dapat berjalan lancar dan kondusif. Panitia berupaya memastikan setiap peserta memperoleh pelayanan dan kesempatan berkompetisi secara adil, nyaman, serta sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,” ungkap Eko Purwono.Lanjut Eko Purwono, Khusus di titik lokasi MAN IC Tapanuli Selatan, OMI 2026 diikuti oleh ratusan murid madrasah dari berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Tapanuli Selatan. Para peserta berasal dari tiga jenjang, mulai dari Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Ibtidaiyah (MI), yang hadir membawa semangat, kemampuan terbaik, dan harapan untuk melangkah menuju kompetisi pada tingkat berikutnya.OMI 2026 menegaskan bahwa madrasah tidak berdiri di pinggir gelanggang ilmu pengetahuan. Madrasah justru sedang bergerak ke pusatnya—membawa identitas keislaman, ketajaman nalar, kepedulian ekologis, dan keberanian berinovasi dalam satu tarikan napas.Di MAN IC Tapanuli Selatan, kompetisi ini memang berlangsung di depan layar komputer. Namun, yang sesungguhnya sedang ditulis bukan sekadar deretan jawaban. Para peserta tengah menulis kemungkinan masa depan: bahwa dari ruang-ruang belajar madrasah, dapat lahir ilmuwan, peneliti, pemikir, dan inovator yang kelak memberi jawaban bagi persoalan bangsa dan dunia.Kontributor: Tim Humas MAN IC Tapanuli SelatanEditor: Said Hasan Assegaf Rambe

Laksanakan Uji publik riset, Murid MAN IC Tapsel Uji Gagasan “Biochar” Bersama Warga Situmba Julu

Laksanakan Uji publik riset, Murid MAN IC Tapsel Uji Gagasan “Biochar” Bersama Warga Situmba Julu

03 Sep 2026

Sipirok — Riset biasanya identik dengan laboratorium, laporan, angka, dan ruang presentasi. Namun murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan memilih jalan berbeda. Hasil riset mereka dibawa keluar dari lingkungan madrasah, dipertemukan langsung dengan masyarakat, lalu diuji gagasan dan relevansinya melalui kegiatan Uji Publik Tapsel Biochar Movement bersama warga Desa Situmba Julu. (03/09/2026)Mengangkat tema “Gerakan Desa Karbon Positif: Mengembalikan Karbon ke Tanah, Stop Bakar! Mulai Subur!”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan yang dikembangkan murid dengan pengalaman nyata masyarakat yang sehari-hari bersentuhan dengan tanah, pertanian, dan pengelolaan limbah organik.Gagasan utama yang diperkenalkan adalah pemanfaatan limbah pertanian melalui biochar, yakni mengolah bahan organik menjadi material yang dapat dikembalikan ke tanah untuk mendukung kesuburan dan pengelolaan karbon. Melalui gerakan tersebut, murid mengajak masyarakat melihat sisa pertanian bukan semata-mata sebagai limbah yang harus dibuang atau dibakar, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat diolah dan memberikan manfaat.Dalam sesi uji publik, murid menjelaskan gagasan riset dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dialog berkembang dari persoalan sederhana seperti kebiasaan membakar limbah pertanian, manfaat biochar bagi tanah dan tanaman, hingga peluang perubahan kebiasaan masyarakat menuju pengelolaan limbah yang lebih produktif dan ramah lingkungan.Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan dan penguatan riset murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam mengikuti Sobat Competition. Melalui uji publik ini, tim tidak hanya mematangkan karya dari sisi konsep dan substansi ilmiah, tetapi juga menguji sejauh mana gagasan yang mereka tawarkan dapat dipahami, diterima, dan memiliki relevansi bagi masyarakat. Tim murid yang terlibat terdiri atas Sahira Latifah, Nazwa Amelia Pospos, dan Atika Aufa Pracha, M. Maulana Siregar dab Rofiqoh Adzkia Dalimunthe dengan pendampingan Mis Ariska Aj Rambe sebagai guru pendamping. Sahira Latifah dan Nazwa Amelia Pospos mengambil peran dalam penyampaian substansi Tapsel Biochar Movement, sementara Atika Aufa Pracha dan Rofiqoh Adzkia turut mengawal jalannya komunikasi kegiatan bersama masyarakat dan M. Maulana Siregar sebagai kordinator rangkaian kegiatan.Kegiatan ini dihadiri unsur Pemerintah Desa Situmba Julu, di antaranya Sekretaris Desa Situmba Julu, Irsan Sitompul, Kepala Dusun, Ibu serta masyarakat setempat. Dari MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, kegiatan tersebut dihadiri WKM Humas Said Hasan Assegaf Rambe mewakili Kepala Madrasah serta guru pendamping Mis Ariska Aj Rambe.Sekretaris Desa Situmba Julu, Irsan Sitompul, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang dilakukan para murid. Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan nilai tambah karena pengetahuan yang dibawa berkaitan langsung dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.“Kami menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini. Bagi masyarakat, pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat karena berkaitan langsung dengan tanah, pertanian, dan kebiasaan sehari-hari. Kami juga bangga para murid mau turun langsung bertemu masyarakat, menjelaskan hasil pemikirannya, sekaligus mendengar pengalaman warga,” ujarnya.Mewakili pihak madrasah, Said Hasan Assegaf Rambe menyampaikan terima kasih atas keterbukaan Pemerintah Desa dan warga Situmba Julu yang bersedia menjadi bagian dari proses uji publik tersebut.“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa dan seluruh warga Situmba Julu yang telah bersedia menerima murid-murid kami, berdialog, memberikan respons, bahkan menjadi bagian dari proses uji publik penelitian ini. Bagi madrasah, ini sangat berharga. Murid belajar bahwa ilmu yang baik bukan hanya dipahami, tetapi harus mampu hadir, didengar, diuji, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.Sementara itu, guru pendamping Mis Ariska Aj Rambe menekankan bahwa riset murid perlu dibawa keluar dari ruang kelas agar memiliki makna yang lebih nyata.“Kami ingin murid memahami bahwa riset bukan hanya tentang memenangkan lomba. Ketika sebuah gagasan bisa dibawa keluar dari ruang kelas, didiskusikan dengan warga, lalu menawarkan solusi bagi persoalan di sekitar mereka, di situlah riset mulai memiliki kehidupan,” ungkap Mis Ariska Aj Rambe.Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Murid tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga belajar berkomunikasi, mendengar kritik, menjelaskan gagasan secara sederhana, serta mempertanggungjawabkan ide yang mereka tawarkan.Menariknya, Tapsel Biochar Movement tidak berhenti pada persoalan bagaimana membuat biochar. Gerakan ini membawa pesan perubahan perilaku: dari membakar menjadi memanfaatkan, dari membuang menjadi mengolah, dan dari melihat limbah sebagai masalah menjadi melihatnya sebagai sumber daya.Melalui kegiatan ini, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan terus mendorong budaya riset yang tidak berjarak dengan kehidupan masyarakat. Desa tidak hanya ditempatkan sebagai lokasi penelitian, tetapi sebagai ruang belajar, ruang validasi, sekaligus mitra pengetahuan bagi murid.Karena pada akhirnya, ukuran penting sebuah riset bukan hanya seberapa baik ia dipresentasikan di depan dewan juri, tetapi juga seberapa jauh ia mampu berbicara kepada masyarakat yang menjadi tempat ilmu itu kelak bekerja.Dari Situmba Julu, sebuah pesan sederhana itu digaungkan: Stop Bakar, Mulai Subur.

MAN IC Tapsel Raih IKPA Sempurna 100, Perkuat Tata Kelola Anggaran yang Akuntabel

MAN IC Tapsel Raih IKPA Sempurna 100, Perkuat Tata Kelola Anggaran yang Akuntabel

02 Sep 2026

Padangsidimpuan — MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan kembali menorehkan capaian membanggakan dalam tata kelola keuangan negara. Madrasah tersebut meraih penghargaan atas capaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) sempurna dengan nilai 100 untuk Semester I Tahun 2026. Penghargaan diberikan dalam rangkaian kegiatan yang diselenggarakan KPPN Padang Sidempuan pada Rabu, 2 September 2026Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kualitas pelaksanaan anggaran MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan sebagai satuan kerja di lingkungan Kementerian Agama. Dalam agenda KPPN Padang Sidempuan, pemberian apresiasi kepada satuan kerja terpilih menjadi salah satu rangkaian kegiatan bersama Evaluasi Pelaksanaan Anggaran, Forum Konsultasi Publik, serta penguatan tata kelola dan integritas pelayanan publik. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan sekaligus Kepala Madrasah, Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I., M.S.I., menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, nilai IKPA sempurna tidak hanya dimaknai sebagai prestasi administratif, tetapi juga sebagai cerminan komitmen madrasah dalam mengelola setiap rupiah anggaran negara secara tertib, efektif, transparan, dan bertanggung jawab.“Alhamdulillah, capaian IKPA 100 ini merupakan hasil kerja bersama. Penghargaan ini bukan sekadar tentang angka, tetapi tentang bagaimana amanah anggaran negara dilaksanakan secara disiplin, tepat sasaran, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Kami menyampaikan apresiasi kepada Bendahara dan seluruh Tim Keuangan MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan yang selama ini bekerja dengan penuh ketelitian dan komitmen,” ujar Abdul Hakim.Pada kegiatan tersebut, Kepala Madrasah diwakili oleh Bendahara MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Bagaswara Deas Arista, bersama Tim Keuangan MAN IC Tapanuli Selatan. Kehadiran mereka sekaligus menjadi representasi tim yang selama ini terlibat langsung dalam menjaga kualitas perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, hingga pertanggungjawaban anggaran madrasah.Capaian IKPA 100 menunjukkan bahwa pelaksanaan anggaran MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan mampu memenuhi indikator kinerja yang ditetapkan dalam pengelolaan APBN. Penghargaan sebelumnya juga tercatat diberikan kepada MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dengan kode satuan kerja 070932 atas capaian Nilai IKPA Sempurna (100) Periode Semester I Tahun 2026.Abdul Hakim menambahkan, prestasi tersebut diharapkan menjadi energi bagi seluruh unsur madrasah untuk terus memperkuat budaya kerja yang profesional dan berintegritas. Tata kelola keuangan, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu layanan pendidikan karena anggaran pada hakikatnya merupakan instrumen untuk menghadirkan pelayanan terbaik kepada murid dan masyarakat.Kegiatan di KPPN Padang Sidempuan juga memuat agenda Evaluasi Pelaksanaan Anggaran, sosialisasi sertifikasi pejabat perbendaharaan, Forum Konsultasi Publik, serta penguatan pencegahan korupsi dan gratifikasi. Forum tersebut menekankan pentingnya pelayanan yang transparan, akuntabel, berintegritas, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik. Ke depan, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan berkomitmen mempertahankan kualitas pengelolaan anggaran melalui perencanaan yang semakin matang, kepatuhan terhadap regulasi, ketepatan pelaksanaan program, serta penguatan koordinasi seluruh pengelola keuangan. Capaian IKPA sempurna ini diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan mewujudkan tata kelola madrasah yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

Dari Kota Batik Bawa “Oleh-Oleh” Beasiswa, MAN IC Tapsel Perkuat Jalan Murid Menuju Kampus Dunia

Dari Kota Batik Bawa “Oleh-Oleh” Beasiswa, MAN IC Tapsel Perkuat Jalan Murid Menuju Kampus Dunia

26 Aug 2026

Pekalongan — Bukan sekadar membawa pulang pengalaman dan gagasan baru, momentum Refleksi Milad Madrasah Insan Cendekia (MAN IC) se-Indonesia turut menghadirkan “oleh-oleh” penting bagi pengembangan masa depan murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, terbukanya beragam jalur beasiswa pendidikan Kementerian Agama untuk melanjutkan studi hingga perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri.Peluang tersebut mengemuka dalam paparan Dr. Ruchman Basori, M.Ag. bertajuk “Menjadi Generasi Unggul Melalui BIB untuk Menyambut Indonesia Emas 2045”. Dalam paparannya, pembiayaan pendidikan ditempatkan sebagai salah satu instrumen strategis pengembangan sumber daya manusia Kementerian Agama, mencakup berbagai skema beasiswa, KIP Kuliah, pembiayaan studi dan riset, hingga peningkatan kapasitas pendidik.Menariknya, peluang tersebut tidak hanya diarahkan pada studi keagamaan. Murid dan lulusan madrasah memiliki ruang untuk menempuh bidang-bidang strategis seperti teknik, kedokteran, ekonomi, sains, dan berbagai disiplin lainnya, baik di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri. Skema yang diperkenalkan antara lain beasiswa unggulan keagamaan, beasiswa magister dan doktor, Program Beasiswa Santri Berprestasi, double degree, beasiswa akselerasi, pendidikan jarak jauh, hingga bantuan penyelesaian studi S2 dan S3.Bagi MAN IC Tapanuli Selatan, informasi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan untuk semakin serius menyiapkan murid sejak dini. Beasiswa tidak cukup hanya “ditunggu” ketika murid duduk di kelas XII, tetapi perlu dipersiapkan melalui pembinaan yang sistematis, mulai dari penguatan kemampuan akademik, bahasa asing, kesiapan menghadapi tes skolastik, wawancara, hingga kemampuan menyampaikan gagasan dan membangun kepercayaan diri.Dalam paparan tersebut, penguasaan bahasa Inggris mendapat perhatian khusus. Kemampuan TOEFL, IELTS, atau persyaratan bahasa sejenis masih menjadi salah satu tantangan utama dalam mengakses beasiswa dan perguruan tinggi luar negeri. Karena itu, MAN IC didorong memperkuat program bahasa sekaligus membiasakan murid dengan proses seleksi akademik dan wawancara sejak masa sekolah.Persiapan juga harus menyentuh strategi memilih perguruan tinggi. Madrasah didorong membangun jejaring dengan pengelola beasiswa dan perguruan tinggi, membimbing murid memahami mekanisme pendaftaran, serta mengenalkan pentingnya memperoleh Letter of Acceptance (LoA) atau unconditional offer apabila dipersyaratkan. Pemilihan kampus pun perlu mempertimbangkan mutu, persyaratan masuk, biaya, peringkat, dan peluang diterima secara terukur.Pesan tersebut sejalan dengan posisi strategis MAN Insan Cendekia sebagai madrasah akademik yang diarahkan melahirkan saintis, akademisi, profesional, dan pemimpin masa depan. Lulusan MAN IC diharapkan tidak hanya unggul dalam sains dan akademik, tetapi juga religius, berkarakter, mandiri, memiliki kemampuan bahasa, berjiwa kepemimpinan, serta mampu berkontribusi nyata di tengah masyarakat.Karena itu, “oleh-oleh beasiswa” dari forum nasional ini memiliki makna lebih besar daripada sekadar informasi program. Ia menjadi dorongan agar pola pembinaan murid MAN IC Tapanuli Selatan semakin diarahkan pada akses perguruan tinggi terbaik sekaligus akses pendanaan pendidikan, sehingga keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi murid berprestasi untuk menembus kampus impian.Ke depan, penguatan bahasa Inggris, literasi teknologi, pembinaan tes skolastik dan wawancara, pendampingan pendaftaran perguruan tinggi, serta perluasan jejaring dengan Kementerian Agama, pengelola beasiswa dan kampus dalam maupun luar negeri menjadi pekerjaan strategis yang perlu terus diperkuat. Dengan langkah tersebut, MAN IC Tapanuli Selatan diharapkan tidak hanya semakin banyak mengantarkan muridnya lulus ke perguruan tinggi terbaik, tetapi juga berangkat membawa beasiswa dan mimpi besar menuju Indonesia Emas 2045.

Dari Jejak Bung Hatta ke Ruang OSIM: Dua Murid MAN IC Tapsel Pulang Membawa Cara Baru Memimpin

Dari Jejak Bung Hatta ke Ruang OSIM: Dua Murid MAN IC Tapsel Pulang Membawa Cara Baru Memimpin

26 Aug 2026

Padang — Kepemimpinan tidak selalu tumbuh dari podium, jabatan, atau ruang rapat. Terkadang, ia lahir ketika seorang pelajar belajar mengenali dirinya, mendengarkan orang lain, membaca persoalan sosial, lalu berjalan menyusuri jejak para tokoh bangsa.Pengalaman itulah yang dibawa pulang dua murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Fauzi Syarif Harahap dan Arie Farhan Lubis, setelah menjadi bagian dari 100 Ketua OSIS/MPK Terbaik se-Indonesia dalam Indonesian Student Leadership Training (ISLT) 2026 yang berlangsung di Sumatera Barat pada 11–18 Agustus 2026.Keikutsertaan keduanya menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan yang melampaui teori. Selama delapan hari, para peserta dipertemukan dengan gagasan, pengalaman lapangan, sejarah kebangsaan, serta forum pertukaran pemikiran bersama pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.Rangkaian ISLT 2026 diawali pada 11 Agustus dengan kedatangan peserta, welcoming dinner, serta sesi inspiratif bersama sejumlah tokoh. Selanjutnya, peserta mengikuti kontrak belajar, orientasi program, serta berbagai sesi pengembangan kapasitas kepemimpinan.Salah satu materi yang menjadi warna kuat dalam kegiatan tersebut adalah “Bung Hatta dan Seni Menjadi Negarawan.” Dari materi ini, peserta diajak memahami kepemimpinan bukan hanya sebagai kemampuan mengarahkan orang lain, tetapi sebagai keberanian menjaga nilai, integritas, kesederhanaan, serta keberpihakan terhadap kepentingan bersama.Materi lainnya, seperti “Mengenal Diri, Menemukan Misi” dan “Pemimpin sebagai Agen Perubahan: Menjadi Manusia Berkualitas Entrepreneur”, memperkuat kesadaran bahwa kepemimpinan bermula dari kemampuan seseorang mengenali dirinya sendiri sebelum mengambil peran di tengah masyarakat.Pembelajaran kemudian bergerak pada isu yang lebih luas. Peserta mendalami gagasan mengenai masyarakat kooperatif, empati sebagai fondasi kepemimpinan, kemampuan membaca persoalan sosial melalui pendekatan sistem, hingga design thinking bagi pemimpin muda.Melalui sesi “Membangun Gerakan, Bukan Sekadar Program”, para peserta juga diajak keluar dari paradigma kegiatan organisasi yang hanya berorientasi pada agenda seremonial. Kepemimpinan didorong menjadi sebuah gerakan yang memiliki dampak, kesinambungan, dan kebermanfaatan nyata bagi lingkungan sekitarnya.Belajar dari Ruang Pemerintahan hingga Jejak Para NegarawanISLT 2026 tidak hanya berlangsung di dalam ruang pembelajaran. Para peserta mendapatkan pengalaman langsung melalui kunjungan ke DPRD Sumatera Barat dan lingkungan pemerintahan Provinsi Sumatera Barat.Pembelajaran kebangsaan semakin kuat ketika peserta menyusuri sejumlah tempat yang berkaitan dengan sejarah perjuangan dan pemikiran tokoh bangsa.Dalam agenda perjalanan sejarah, peserta mengunjungi kawasan yang memiliki hubungan dengan Haji Agus Salim, Rohana Kudus, Sutan Sjahrir, Syekh Khatib Al-Minangkabawi, hingga jejak kehidupan Mohammad Hatta.Perjalanan tersebut membawa peserta pada satu pesan penting: Indonesia tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang memiliki jabatan, tetapi oleh manusia-manusia yang mempunyai gagasan, keberanian moral, keteguhan prinsip, serta kesediaan mengabdikan diri untuk kepentingan yang lebih besar.Di Bukittinggi, peserta juga memperoleh pengalaman sejarah melalui kunjungan ke sejumlah lokasi penting, termasuk kawasan yang berkaitan dengan Bung Hatta dan Lobang Jepang.Pengalaman ini membuat pembelajaran kepemimpinan dalam ISLT menjadi lebih kontekstual. Sejarah tidak semata dibaca dari buku, tetapi dihadirkan langsung sebagai ruang refleksi bagi calon-calon pemimpin muda Indonesia.Merayakan Kemerdekaan dengan Semangat KepemimpinanMomentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut menjadi bagian penting dalam perjalanan peserta ISLT 2026.Pada 17 Agustus 2026, para peserta mengikuti rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan di Sumatera Barat. Momentum tersebut mempertemukan semangat kepemimpinan generasi muda dengan nilai perjuangan, nasionalisme, dan tanggung jawab menjaga masa depan Indonesia.Bagi Fauzi Syarif Harahap, pengalaman mengikuti ISLT memberikan cara pandang baru tentang arti seorang pemimpin.«“Saya mendapatkan banyak pembelajaran bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang bagaimana seseorang memimpin, tetapi juga tentang bagaimana kita mampu memahami diri, mendengarkan orang lain, melihat persoalan secara lebih luas, dan menghadirkan kontribusi yang memberikan manfaat.”»Menurut Fauzi, perjumpaan dengan para ketua OSIS dan MPK dari berbagai wilayah Indonesia juga menjadi pengalaman yang berharga. Setiap peserta datang dengan karakter sekolah, lingkungan sosial, serta pengalaman organisasi yang berbeda.Perbedaan tersebut justru menjadi ruang belajar untuk melihat bahwa persoalan organisasi tidak selalu dapat diselesaikan dengan satu pendekatan. Seorang pemimpin dituntut mampu mendengar, beradaptasi, membangun kolaborasi, sekaligus tetap memiliki prinsip.Dari ISLT untuk MAN IC TapselSepulang dari Sumatera Barat, pengalaman ISLT tidak diharapkan berhenti sebagai catatan perjalanan atau sertifikat kegiatan.Fauzi berharap berbagai wawasan yang diperoleh dapat ditransformasikan dalam kehidupan organisasi di MAN IC Tapanuli Selatan, khususnya melalui OSIM. Pengetahuan tersebut juga diharapkan dapat dibagikan kepada pengurus organisasi dan murid lainnya sehingga tumbuh budaya kepemimpinan yang semakin kolaboratif, responsif, dan berorientasi pada kebermanfaatan.Semangat “membangun gerakan, bukan sekadar program” menjadi salah satu gagasan yang relevan untuk dikembangkan dalam organisasi murid. Setiap program tidak hanya dituntut selesai dilaksanakan, tetapi juga perlu memiliki tujuan, kesinambungan, serta dampak yang dapat dirasakan warga madrasah.Keikutsertaan Fauzi Syarif Harahap dan Arie Farhan Lubis dalam ISLT 2026 juga menjadi bagian dari komitmen MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam memberikan ruang seluas-luasnya bagi murid untuk mengembangkan potensi akademik, organisasi, karakter, dan kepemimpinan.Prestasi tersebut tidak terlepas dari dukungan keluarga besar MAN IC Tapanuli Selatan, mulai dari Kepala Madrasah, jajaran Wakil Kepala Madrasah, Pembina OSIM, tenaga pendidik dan kependidikan, pengurus OSIM, hingga seluruh murid.Lebih dari sekadar menjadi bagian dari 100 Ketua OSIS/MPK terbaik se-Indonesia, perjalanan ini membawa pesan yang lebih besar: pemimpin muda tidak cukup hanya pandai berbicara tentang perubahan. Ia harus mampu mengenali persoalan, membangun gagasan, menggerakkan orang lain, dan menghadirkan manfaat.Dari Padang, Bukittinggi, ruang pemerintahan, hingga jejak Bung Hatta dan para tokoh bangsa, Fauzi dan Arie pulang membawa sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar pengalaman perjalanan—sebuah cara baru memandang kepemimpinan.Dan dari MAN IC Tapanuli Selatan, perjalanan itu baru saja dimulai.