Beranda - PTSP Madrasah
PTSP MAN IC TAPSEL
Pelayanan Digital Terintegrasi

Pelayanan Terpadu Satu Pintu

Layanan cepat, mudah, dan transparan untuk siswa, guru, serta masyarakat dalam pengurusan administrasi madrasah.

Kepala Madrasah

Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I., M.S.I

Kepala Madrasah

Selamat datang di layanan PTSP Madrasah kami. Kami berkomitmen memberikan pelayanan prima, cepat, dan transparan kepada seluruh warga madrasah.

Maklumat Pelayanan

Dengan ini kami menyatakan sanggup menyelenggarakan pelayanan sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan dan apabila tidak menepati janji ini, kami siap menerima sanksi sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tim Humas

Orang-orang di balik publikasi dan komunikasi madrasah.

Said Hasan Assegaf Rambe, M.Ag

Said Hasan Assegaf Rambe, M.Ag

Wkm. Bidang Humas

199511022023211013
Julianta Hutapea, A.Md.Kom

Julianta Hutapea, A.Md.Kom

Staf Bidang Humas

199207302025212010
Asrul Azis Koto

Asrul Azis Koto

Staf Bidang Humas

198505272025211051
Rezky Amaliah, Amd

Rezky Amaliah, Amd

Staf Bidang Humas

-

Berita Terbaru

Informasi & kegiatan terbaru

Delapan Murid MAN IC Tapsel Melaju ke Tahap Wawancara Madrasah Goes Abroad Kemenag RI 2026

Delapan Murid MAN IC Tapsel Melaju ke Tahap Wawancara Madrasah Goes Abroad Kemenag RI 2026

12 Sep 2026

Tapanuli Selatan (Humas) — Jalan menuju kampus-kampus terbaik dunia mulai terbuka bagi murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan. Sebanyak delapan murid dinyatakan lulus seleksi administrasi Program Madrasah Goes Abroad (MGA) Tahun 2026 dan berhak melanjutkan perjuangan ke tahap wawancara. Capaian ini menjadi bukti bahwa mimpi menempuh pendidikan tinggi di luar negeri kini semakin nyata dan dipersiapkan melalui proses yang terarah.Delapan murid tersebut adalah Aleesya Nazla Harahap, Ariran Wijdan Machani, Bunga Lestari Hasibuan, Fathir Rahman Raditya, Lunaya, Naura Afifah Albaini, Shaira Aini Balqis Harahap, dan Yusuf Al-Bukhori Siregar. Mereka berhasil melewati seleksi administrasi yang mensyaratkan sejumlah dokumen penting, antara lain identitas sebagai warga negara Indonesia, rekomendasi Kepala Madrasah, motivation letter berbahasa Inggris, sertifikat kemampuan bahasa asing, serta dokumen prestasi akademik.Program Madrasah Goes Abroad bukan sekadar kegiatan mengenalkan pendidikan di luar negeri. Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6846 Tahun 2026, program ini dirancang untuk mempersiapkan murid madrasah agar memiliki pengetahuan, keterampilan, keberanian, dan kesiapan mental dalam menembus perguruan tinggi kelas dunia, baik melalui jalur beasiswa maupun pembiayaan mandiri.Melalui program ini, peserta akan dibimbing untuk memetakan kemampuan bahasa asing, menentukan bidang studi sesuai potensi dan aspirasi, memilih kampus tujuan, serta menyusun berbagai dokumen strategis. Dokumen tersebut meliputi esai, personal statement atau statement of purpose, study plan, lini masa persiapan studi, hingga curriculum vitae atau resume yang sesuai dengan standar pendaftaran perguruan tinggi internasional.Peserta yang nantinya ditetapkan dalam kuota nasional sebanyak 100 murid akan mengikuti pendampinganu intensif dengan total alokasi 360 jam pelajaran. Materinya mencakup strategi memilih dan mendaftar ke kampus tujuan, eksplorasi peluang beasiswa di berbagai negara, penulisan esai, keterampilan menghadapiui wawancara, wawasan budaya akademik di luar negeri, serta penguatan moderasi beragama. Program juga diarahkan untuk membangun budaya riset dan publikasi ilmiah di lingkungan madrasah.Kepala MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, Abdul Hakim Siregar, S.Pd.I., M.S.I., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan delapan murid tersebut. “Kelulusan pada tahap administrasi ini merupakan pintu awal dari perjalanan yang lebih besar. Kami ingin mereka hadir dalam wawancara bukan hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga membawa karakter, kepercayaan diri, visi masa depan, dan identitas sebagai generasi madrasah yang siap berkontribusi bagi Indonesia,” ungkapnya.Ia menegaskan bahwa keikutsertaan murid MAN IC Tapsel dalam MGA merupakan bagian dari ikhtiar madrasahu membangun ekosistem studi lanjut luar negeri secara berkelanjutan. “Target kita bukan hanya lolos dalam satu program. Yang sedang kita bangun adalah budaya: berani bermimpi secara global, menyiapkan diri secara serius, serta memiliki komitmen untuku kembali memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama,” tambahnya.Sesuai jadwal terbaru Direktorat KSKK Madrasah, tahapu wawancara berlangsung pada 11–13 September 2026, sedangkan hasil seleksi dijadwalkan diumumkan pada 14 September 2026. Dengan semangat Prestasi, Mandiri, dan Islami, kedelapan murid kini membawa harapan besar keluarga dan madrasah. Mereka tidak hanya sedang mengetuk pintu kampus dunia, tetapi juga sedang menegaskan bahwa dari Tapanuli Selatan, generasi madrasah mampu berdiri percaya diri di Delapan Murid MAN IC Tapsel Melaju ke Tahap Wawancara Madrasah Goes Abroad 2026 Kemenag RIpanggung global.

Uji Nyali Intelektual , ratusan Murid Madrasah ikuti OMI 2026 di MAN IC Tapsel

Uji Nyali Intelektual , ratusan Murid Madrasah ikuti OMI 2026 di MAN IC Tapsel

07 Sep 2026

Tapanuli Selatan (Humas) — Senin pagi, 7 September 2026, layar-layar komputer di MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan tidak sekadar menyala. Di hadapannya, para murid membawa harapan, keberanian, dan daya pikir terbaik untuk bertarung dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tingkat Kabupaten Tapanuli Selatan.Selama tiga hari, 7–9 September 2026, MAN IC Tapanuli Selatan menjadi salah satu titik lokasi pelaksanaan OMI di Kabupaten Tapanuli Selatan. Kompetisi berlangsung berbasis Computer-Based Test (CBT), menjadi bagian dari pelaksanaan OMI secara serentak pada ribuan titik lokasi di seluruh Indonesia.Hari pertama dikhususkan bagi jenjang MA/SMA. Para peserta berhadapan dengan Matematika Terintegrasi, Geografi Terintegrasi, Fisika dan Ekonomi Terintegrasi, serta Biologi dan Kimia Terintegrasi. Pada hari kedua, giliran peserta jenjang MTs/SMP berkompetisi dalam Matematika Terpadu, IPA Terpadu, dan IPS Terpadu. Rangkaian kemudian ditutup pada hari ketiga dengan kompetisi IPAS Terintegrasi dan Matematika Terintegrasi bagi jenjang MI/SD.Bukan hanya akurasi jawaban yang sedang diuji. OMI menghadapkan peserta pada tantangan yang lebih besar: kemampuan membaca persoalan secara kritis, menghubungkan sains dengan realitas kehidupan, serta menggunakan pengetahuan untuk memahami bumi dan kehidupan manusia. Semangat tersebut sejalan dengan tema OMI 2026, “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.”Pelaksanaan hari pertama mendapat peninjauan langsung dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Selatan. Mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Selatan, Pengawas Madrasah jenjang Madrasah Aliyah, Irmayanti, memantau ruang ujian, kesiapan perangkat komputer, jaringan, pengawasan, serta ketertiban pelaksanaan setiap sesi.Irmayanti menyampaikan bahwa pelaksanaan OMI di titik lokasi MAN IC Tapanuli Selatan berlangsung dengan baik dan tertib. Ia juga mengapresiasi kesiapan panitia lokal dalam memastikan setiap tahapan berjalan sesuai ketentuan.“Pelaksanaan hari pertama berjalan dengan baik. Ruangan, perangkat, pengawasan, serta pelayanan kepada para peserta telah dipersiapkan secara tertib. Kami berharap kondisi ini dapat dipertahankan hingga seluruh rangkaian OMI selesai,” ujar Irmayanti.Sementara itu, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan MAN IC Tapanuli Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Lokal OMI 2026, Eko Purwono, S.Pd., mengatakan bahwa kelancaran hari pertama merupakan hasil koordinasi seluruh unsur kepanitiaan. Persiapan teknis telah dilakukan sejak sebelum pelaksanaan, mulai dari pengecekan perangkat, jaringan internet, ruang ujian, hingga pengaturan peserta dalam setiap sesi.“Alhamdulillah, seluruh sesi pada hari pertama dapat berjalan lancar dan kondusif. Panitia berupaya memastikan setiap peserta memperoleh pelayanan dan kesempatan berkompetisi secara adil, nyaman, serta sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan,” ungkap Eko Purwono.Lanjut Eko Purwono, Khusus di titik lokasi MAN IC Tapanuli Selatan, OMI 2026 diikuti oleh ratusan murid madrasah dari berbagai satuan pendidikan di Kabupaten Tapanuli Selatan. Para peserta berasal dari tiga jenjang, mulai dari Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Ibtidaiyah (MI), yang hadir membawa semangat, kemampuan terbaik, dan harapan untuk melangkah menuju kompetisi pada tingkat berikutnya.OMI 2026 menegaskan bahwa madrasah tidak berdiri di pinggir gelanggang ilmu pengetahuan. Madrasah justru sedang bergerak ke pusatnya—membawa identitas keislaman, ketajaman nalar, kepedulian ekologis, dan keberanian berinovasi dalam satu tarikan napas.Di MAN IC Tapanuli Selatan, kompetisi ini memang berlangsung di depan layar komputer. Namun, yang sesungguhnya sedang ditulis bukan sekadar deretan jawaban. Para peserta tengah menulis kemungkinan masa depan: bahwa dari ruang-ruang belajar madrasah, dapat lahir ilmuwan, peneliti, pemikir, dan inovator yang kelak memberi jawaban bagi persoalan bangsa dan dunia.Kontributor: Tim Humas MAN IC Tapanuli SelatanEditor: Said Hasan Assegaf Rambe

Laksanakan Uji publik riset, Murid MAN IC Tapsel Uji Gagasan “Biochar” Bersama Warga Situmba Julu

Laksanakan Uji publik riset, Murid MAN IC Tapsel Uji Gagasan “Biochar” Bersama Warga Situmba Julu

03 Sep 2026

Sipirok — Riset biasanya identik dengan laboratorium, laporan, angka, dan ruang presentasi. Namun murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan memilih jalan berbeda. Hasil riset mereka dibawa keluar dari lingkungan madrasah, dipertemukan langsung dengan masyarakat, lalu diuji gagasan dan relevansinya melalui kegiatan Uji Publik Tapsel Biochar Movement bersama warga Desa Situmba Julu. (03/09/2026)Mengangkat tema “Gerakan Desa Karbon Positif: Mengembalikan Karbon ke Tanah, Stop Bakar! Mulai Subur!”, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan yang dikembangkan murid dengan pengalaman nyata masyarakat yang sehari-hari bersentuhan dengan tanah, pertanian, dan pengelolaan limbah organik.Gagasan utama yang diperkenalkan adalah pemanfaatan limbah pertanian melalui biochar, yakni mengolah bahan organik menjadi material yang dapat dikembalikan ke tanah untuk mendukung kesuburan dan pengelolaan karbon. Melalui gerakan tersebut, murid mengajak masyarakat melihat sisa pertanian bukan semata-mata sebagai limbah yang harus dibuang atau dibakar, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat diolah dan memberikan manfaat.Dalam sesi uji publik, murid menjelaskan gagasan riset dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dialog berkembang dari persoalan sederhana seperti kebiasaan membakar limbah pertanian, manfaat biochar bagi tanah dan tanaman, hingga peluang perubahan kebiasaan masyarakat menuju pengelolaan limbah yang lebih produktif dan ramah lingkungan.Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan dan penguatan riset murid MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan dalam mengikuti Sobat Competition. Melalui uji publik ini, tim tidak hanya mematangkan karya dari sisi konsep dan substansi ilmiah, tetapi juga menguji sejauh mana gagasan yang mereka tawarkan dapat dipahami, diterima, dan memiliki relevansi bagi masyarakat. Tim murid yang terlibat terdiri atas Sahira Latifah, Nazwa Amelia Pospos, dan Atika Aufa Pracha, M. Maulana Siregar dab Rofiqoh Adzkia Dalimunthe dengan pendampingan Mis Ariska Aj Rambe sebagai guru pendamping. Sahira Latifah dan Nazwa Amelia Pospos mengambil peran dalam penyampaian substansi Tapsel Biochar Movement, sementara Atika Aufa Pracha dan Rofiqoh Adzkia turut mengawal jalannya komunikasi kegiatan bersama masyarakat dan M. Maulana Siregar sebagai kordinator rangkaian kegiatan.Kegiatan ini dihadiri unsur Pemerintah Desa Situmba Julu, di antaranya Sekretaris Desa Situmba Julu, Irsan Sitompul, Kepala Dusun, Ibu serta masyarakat setempat. Dari MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan, kegiatan tersebut dihadiri WKM Humas Said Hasan Assegaf Rambe mewakili Kepala Madrasah serta guru pendamping Mis Ariska Aj Rambe.Sekretaris Desa Situmba Julu, Irsan Sitompul, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif yang dilakukan para murid. Menurutnya, kegiatan seperti ini memberikan nilai tambah karena pengetahuan yang dibawa berkaitan langsung dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.“Kami menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini. Bagi masyarakat, pengetahuan seperti ini sangat bermanfaat karena berkaitan langsung dengan tanah, pertanian, dan kebiasaan sehari-hari. Kami juga bangga para murid mau turun langsung bertemu masyarakat, menjelaskan hasil pemikirannya, sekaligus mendengar pengalaman warga,” ujarnya.Mewakili pihak madrasah, Said Hasan Assegaf Rambe menyampaikan terima kasih atas keterbukaan Pemerintah Desa dan warga Situmba Julu yang bersedia menjadi bagian dari proses uji publik tersebut.“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa dan seluruh warga Situmba Julu yang telah bersedia menerima murid-murid kami, berdialog, memberikan respons, bahkan menjadi bagian dari proses uji publik penelitian ini. Bagi madrasah, ini sangat berharga. Murid belajar bahwa ilmu yang baik bukan hanya dipahami, tetapi harus mampu hadir, didengar, diuji, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.Sementara itu, guru pendamping Mis Ariska Aj Rambe menekankan bahwa riset murid perlu dibawa keluar dari ruang kelas agar memiliki makna yang lebih nyata.“Kami ingin murid memahami bahwa riset bukan hanya tentang memenangkan lomba. Ketika sebuah gagasan bisa dibawa keluar dari ruang kelas, didiskusikan dengan warga, lalu menawarkan solusi bagi persoalan di sekitar mereka, di situlah riset mulai memiliki kehidupan,” ungkap Mis Ariska Aj Rambe.Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat juga menjadi bagian penting dari pembelajaran. Murid tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga belajar berkomunikasi, mendengar kritik, menjelaskan gagasan secara sederhana, serta mempertanggungjawabkan ide yang mereka tawarkan.Menariknya, Tapsel Biochar Movement tidak berhenti pada persoalan bagaimana membuat biochar. Gerakan ini membawa pesan perubahan perilaku: dari membakar menjadi memanfaatkan, dari membuang menjadi mengolah, dan dari melihat limbah sebagai masalah menjadi melihatnya sebagai sumber daya.Melalui kegiatan ini, MAN Insan Cendekia Tapanuli Selatan terus mendorong budaya riset yang tidak berjarak dengan kehidupan masyarakat. Desa tidak hanya ditempatkan sebagai lokasi penelitian, tetapi sebagai ruang belajar, ruang validasi, sekaligus mitra pengetahuan bagi murid.Karena pada akhirnya, ukuran penting sebuah riset bukan hanya seberapa baik ia dipresentasikan di depan dewan juri, tetapi juga seberapa jauh ia mampu berbicara kepada masyarakat yang menjadi tempat ilmu itu kelak bekerja.Dari Situmba Julu, sebuah pesan sederhana itu digaungkan: Stop Bakar, Mulai Subur.

Informasi Terkini

Pengumuman resmi & dokumen yang dapat diunduh oleh publik.

Download

  • BOOKLET SNMB 2026

    10 Aug 2026

  • PANDUAN AKADEMIK DAN ASRAMA 2026

    10 Aug 2026